Sunday, October 7, 2018

Menuju Empat Besar Dunia: Bohong atau Bungkus?

Indonesia menuju kekuatan empat besar dunia. Projeksi ini versi PricewaterhouseCoppers (PwC), salah satu perusahaan jasa audit, penjaminan, konsultan bisnis dan pajak terbesar di dunia. Dalam laporannya yang bertajuk ‘The World in 2050: How Will The Global Economic Order Change’ PwC memprojeksikan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi empat besar dunia, dan bagaimana pendapatan negara-negara E7, alias emerging seven -- didalamnya ada Indonesia, Russia, Brazil, China, India, Mexico, dan Turki – menjadi dua kali lipat lebih besar dari kekuatan-kekuatan lama yang tergabung dalam G7.


Tapi PwC bukan satu2nya lembaga yang melakukannya, dan juga bukan hal baru. McKinsey, sebuah konsultan bisnis dan manajemen yang sangat terhormat, juga sampai pada kesimpulan yang  sama lebih dari lima tahun yang lalu. Dalam laporan tahunan Global Institite-nya di tahun 2012, McKinsey meramalkan Indonesia akan masuk jajaran  sepuluh besar global powerhouse di tahun 2030, tepatnya di kedudukan tujuh besar dunia.


Bakal kejadian atau enggak? Tergantung kita sih. Saya sendiri memilih mentalitas: let's make this happen! Yuk, jadikan kenyataan!! ketimbang mengikuti mentalitas kalut: Indonesia bubar 2030!
Menurut saya, dengan semua keberhasilan, tapi juga kelemahan fundamental negeri kita, dan bagaimana Rezim Jokowi berusaha meng-handle hal ini, secara umum kita berada di trajektori yang tepat menuju nubuwatan di atas. Meskipun demikian, trajektori ini juga rentan oleh dua hal.


Pertama, rentan terhadap disrupsi oleh para petualang politik dari kubu oposisi yang sebenarnya lemah karya dan cacat imajinasi tapi jago banget mengolah provokasi dan ketakutan. Disrupsi ini bisa menyebabkan 'Jokowinomics' mangkrak sebelum sepenuhnya termanifestasi, menjadi semacam 'unfinished project'.

Kerentanan yang kedua ada di dalam tubuh rezim Jokowi sendiri, yakni inkonsistensi kualitas dan mental defensif. Inkonistensi kualitas muncul karena Jokowi harus banyak melakukan kompromi politik dengan merekrut orang-orang yang tak selalu kompeten karena hutang budi politik. Akibatnya, mesin kerjanya tidak optimal.

Sementara itu sikap defensif muncul karena keinginan berlebihan untuk melindungi diri dari keganasan oposisi -- seperti memilih Maruf Amin, dan mengamini bahwa kekuatan PKI dan Komunisme masih eksis -- dan akibat tak langsung dari optimisme yang terlampau dipompakan, terutama dalam hubungannya dengan ekonomi dan manajemen projek strategis.
Saya ngerti sih, niatnya menghadirkan semangat dan perasaan harga diri, juga untuk mengejar ketertinggalan. Tapi overdosis optimisme akan membuat rejim ini jatuh pada jebakan ’over-promise, under-deliver’, yang indikasinya mudah sekali kita tengarai. Tinggi janji tapi kurang deliveri ini, jika tidak ditangani dengan baik, bisa mengundang gelombang balik antipati..

[...]

OK, balik ke ramalan optimis lembaga-lembaga internasional tadi, saya pengin berbagi gimana secara pribadi saya menyikapinya..

Those who know me very well, istri saya misalnya, tahu banget bahwa deep down inside saya itu cenderung dark and gloomy, no glory, and even close to a pessimistic person. Dan saya enjoy itu. That's simply me.  [Hahahaha.. :) :) Yes! logat Jakselnglish habis! Proud of it...!!! ]

Tapi di dunia sosial dan profesional, saya selalu memprojeksikan sisi saya yang lain. Yang optimistik, penuh harap, sisi cerah yang bisa menghidupi semangat – terutama bagi diri daya sendiri -- untuk maksimal dan habis-habisan mengabdi, bekerja, berkompetisi, atau apapun itu namanya. Pokoknya: total football! Karena saya tau banget: gimana mau berhasil, kalau gak total. Gimana mau totalitas, kalau kita pesimis dan penuh ketakutan?

So, kali ini ijinkanlah saya untuk menjadi seorang pemimpi optimis dan memilih yakin pada nubuwatan lembaga-lembaga besar itu tadi. Bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan lima besar ekonomi dunia pada 2045, tepat di ulang tahun kemerdekaanya yang ke-100.

Hopefully tidak sekedar kaya/ besar dari sisi ekonomi. Namun juga kaya sumbangan kemanusiaan di bidang sains, teknologi, seni. Dalam hal humanisme dan solidaritas. Dan perihal merayakan kehidupan bersama, termasuk hal-hal lucu seperti makanan, gaya hidup, plesiran, adventure..

Pada saat itu, di mimpi saya tadi, buku-buku sejarah kita menulis perjalanan seratus tahun Kemerdekaan Indonesia yang penuh warna, banyak kesalahan, tapi berujung gemilang.

Di mimpi itu juga, saya melihat cucu saya dan teman-teman di ’kelas-bebas’ mereka membaca textbook sejarah nasional Indonesia yang membuat pembabakan baru Indonesia semenjak kemerdekaan menjadi sebagai berikut

1945 - 1959 Orde Revolusi
1959 - 1965 Orde Lama
1966 - 1998 Orde Baru
1998 - 2014 Orde Reformasi
2014 - 2024 Orde Kerja
2024 - 2040 Orde Akselerasi
2040 - 2060 Orde Supremasi

Berangkat dari mimpi itu, buat saya agenda politik hari ini hanya ada dua. Pertama, memastikan Orde Kerja ini diberi kesempatan menyelesaikan apa yang telah mereka mulai tanpa dihentikan oleh para petualang politik yang menghidupi dirinya dengan senantiasa menghembuskan rasa was-was.

Lalu yang Kedua -- setelah pergulatan jangka pendek ini dimenangkan -- membentuk kekuatan sangat kritis agar Orde Kerja bisa lebih 'lempeng' jalannya, tak banyak dibebani oleh kompromi politik dan canpur tangan kekuatan-kekuatan lama.

Kekuatan kritis ini akan mencecar agar Orde Kerja ini tidak meng-entertain gagasan-gagasan lama yang jauh dari rasa keadilan, dan tidak main-main dalam membangkitkan energi terpendam manusia-manusia Indonesia menjadi terlibat sepenuhnya dan memberi (hanya) yang terbaik. Yang terakhir ini hanya bisa mewujud jika triumvirat rekonsiliasi, keadilan, dan angan-angan bersama bisa terbangun.

Problem mendasar dari penajaman pergulatan politik secara tidak proporsional dari kedua kubu selama lima tahun terakhir adalah munculnya kesan bangsa terbelah ke dalam dua kelompok besar yang saling berhadapan. Masing-masing dengan angan-angan yang seakan berbeda sama sekali, atau malah bertentangan secara diametral. Dan di satu sisi, ada satu kelompok kecil ysng capek dengan tingkah polah keduanya. Hal ini bisa mendorong mereka untuk shutdown. Menjadi apolitis.

Padahal, kemungkinan besar tidak demikian. Mimpi kita tentang negeri ini, pasti gak beda-beda jauh, yang itu-itu juga, at least big picturenya. Misalnya: semua orang ingin agar tanggal merah, alias hari libur, nambah. Gak penting dari agama atau kejadian apa hari libur ini disumbangkan... :) :) So membangun inklusivitas dan rasa bersaudara, usai kericuhan pemilihan ini jadi agenda penting banget. Otherwise, kita gak akan bisa lari kenceng..

Sounds too much? Mengada-ada? Bisa jadiii.
Tapi demi anak-anak perempuan saya yang begitu saya sayangi dan demi negeri surgawi bernama Nusantara ini, moga itu semua  bukan sekedar mimpi kosong di sebuah Minggu pagi,.

Empat besar dunia?? Bungkus!!!