Tuesday, December 19, 2017

Prestasi Penting Seorang Jangki Bioskop: Enam Belas Film Lokal di Tahun 2017

Semenjak hampir sepuluh tahun yang lalu, industri sinema lokal berhasil memproduksi secara konsisten 90-an sampai 130-an judul film tiap tahunnya. Tak buruk. Cukup membanggakan malah, mengingat satu dekade sebelumnya, Indonesia terpuruk habis. Film bukan hanya runtuh dari segi jumlah produksi, namun juga gelap gulita kualitasnya. Selama sepuluh tahun diantara 1993 hingga 2003, kurang dari 30-an film layar lebar Indonesia di rilis tiap tahunnya. Bahkan di tahun-tahun paling buruk menjelang  dan menyusul kejatuhan Soeharto, dunia sinema kita hanya merilis kurang dari sepuluh film per tahun. Itu pun sering kali didominasi oleh genre film kuning.

Contoh yang paling epik barangkali adalah rilisan film Indonesia di tahun 1998, tahun kebangkrutan rezim Orde Baru. Hanya empat film layar lebar di rilis tahun ini, tiga diantaranya dengan judul yang ampun banget imajinasinya. Lihat saja: Misteri Banyuwangi (Dukun Santet), Dendam Membara, Permainan Membara, dan Nafsu Membara. OMG, ada apa dengan kata ‘membara’ dan tahun 1998? Saya amat tergoda untuk menamai ketiga film epik itu dalam satu Trilogi Film Membara

Kalau dulu Anda suka ke bioskop, kadang-kadang ada juga sih, setetes harapan di tengah kemarau panjang itu. Misalnya Kuldesak (1997), Petualangan Sherina (1999), Bintang Jatuh (2000) dan Pasir Berbisik (2000) yang memperkenalkan dan mengukuhkan Dian Sastro. Jelangkung (2001) yang menguarkan kembali kegemaran audiens lokal pada genre makhluk halus. Lalu AADC (2002) dan Arisan (2003) yang sering dianggap sebagai penanda awal kebangkitan kembali fim lokal.

Kini ceritanya berbeda. Meski belum benar-benar bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri, paling tidak kita merasakan musim semi perfileman nasional berderap pasti ke depan.  Di beberapa tahun terakhir, pangsa pasar film-film lokal kembali mentok di angka 20-25%, masih jauh dari pencapaian tertinggi di tahun 2008 saat film lokal sempat meraup 56% dari total penjualan karcis bioskop kala itu, berkat film-film seperti Laskar Pelangi (2008) dan Ayat-Ayat Cinta (2008). Tapi mempertimbangkan konsolidasi, peningkatan kualitas, dan serbuan film Hollywood yang luar biasa selama lima tahun terakhir, angka 25% ini masih cukup terhormat.

Buat saya pribadi, dalam hubungannya dengan kebiasaan nonton bioskop, tahun 2017 adalah tahun prestasi! Biasanya, saya hanya bisa menonton lima sampai sembilan film Indonesia tiap tahunnya, tak pernah menyentuh angka sepuluh. Tapi kali ini saya sempat menonton enam belas film Indonesia.


Berikut ini adalah daftar film layar lebar Indonesia yang sempat saya tonton di bisokop sepanjang tahun 2017 (beberapa diproduksi di tahun 2016). Tak selalu menggambarkan film yang paling baik, karena kata kuncinya adalah: sempat. Yang saya suka banget dari tahun 2017 ini adalah diangkatnya lokalitas melalui film-film berbahasa Jawa (Kartini, Turah, Ziarah, Istirahatlah Kata-Kata), masuknya film dokumenter ke jaringan teater layar lebar arus utama (Banda: The Dark Forgotten Trail dan Negeri Dongeng), drama nyata sehari-hari yang digarap dengan amat bagus (Posesif dan Cek Toko Sebelah), lalu satu feature film yang diputar di Cannes setelah bertahun-tahun Indonesia absen dari festival ini (Marlina: The Murderer in Four Acts). Lalu ada satu eksperimentasi low-budget thriller movie yang membuahkan predikat film terbaik versi FFI (Night Bus).

Iseng-iseng saya menciptakan scoring berikut untuk menggambarkan ragam kualitas film lokal yang sempat saya tonton sepanjang 2017
0 --  Nyesel nontonnya
1 --  Datar
2 --  Menghibur
3 --  Bagus
4 --  Bagus banget
5 --  Salah satu yang terbaik, yang pernah saya tonton sepanjang masa

Dan berikut ini adalah hasilnya
1.       Cek Toko Sebelah | Komedi, (4/5)
2.       Danur | Horror, (3/5)
3.       Istirahatlah Kata-Kata | Biopik, Drama, (2/5)
4.       Jakarta Undercover | Drama, (2.5/5)
5.       Ziarah | Drama, (5/5)
6.       The Doll 2 | Horror, (0/5)
7.       Kartini | Bografi Sejarah, Drama, (4/5)
8.       Turah | Drama, (2.5/5)
9.       Banda | Dokumenter, (2.5/5)
10.   Pengabdi Setan | Horror, (3/5)
11.   Negeri Dongeng | Dokumenter, (2/5)
12.   Wage | Drama, (2.5/5)
13.   Posesif | Drama, (4.5/5)
14.   Marlina: The Murderer in Four Acts | Drama, (4/5)
15.   Night Bus | Thriller, (3.5/5)
16.   Suatu Hari Nanti | Drama, (2/5)

Resolusi-Resolusi Kecil

Sudah lebih dari lima tahun terakhir, di tiap penghujung warsa, saya gemar membuat resolusi untuk tahun yang akan datang. Ide resolusi tahunan ini bukan karena saya tekun mengikuti saran para motivator tentang ‘taking control of your own destiny’, tetapi adalah respon instingtif kebutuhan survival saya.  Ia lahir semata  sebagai cara jitu menyiasati dua kecencederungan ekstrim yang entah bagaimana, hidup berdampingan dalam diri saya. Di satu sisi saya gemar sekali mager, alias males gerak. Sementara. di kutub yang lain,  saya mudah sekali tergiur oleh rencana-rencana baru yang datang belakangan sembari gampang mencampakkan rencana-rencana mula. Iya, saya memang mudah digoda. Resolusi, paling tidak, membuat saya merasa punya target, sekaligus juga, merasa punya koridor yang memberi batas-batas imajiner dan keterarahan. Ingat, kata kuncinya adalah: m-e-r-a-s-a. :) :)

Dulunya saya gemar membuat resolusi yang gagah dan mentereng, dan kadang agak ditarik tegang (stretched) agar saya juga menjadi tertantang. Resolusi semacam ini misalnya:  menjadi pejabat senior sekian bulan dari sekarang, atau menumpuk asset sejumlah anu dalam dua belas bulan ke depan, atau turun tujuh kilo sebelum akhir tahun, atau menjelajahi ini dan ina dan itu sehingga saya dapat mencoret mereka dari daftar travel destinations saya yang amat panjang itu.

Hanya saja, meski resolusi tarik tegang itu menantang, dan tantangan dapat memberi kita energi, seringkali kejadiannya malah sebaliknya: resolusi-resolusi bikin saya tertekan, karena over-stretched, dan pada akhirnya malah membuahkan perasaan tidak tuntas di penghujung tahun. Nah, akibat over-stretched ini, selalu saja ada resolusi yang gagal capai, yang pada ujungnya justru mendiskon perasaan menang yang muncul dari capaian resolusi lain sepanjang tahun. Perasaan tidak bulat yang acap kali muncul di penghujung tahun ini, buat saya, sangat tidak asyik 

Dan karena itulah, semenjak tahun 2015 saya mengubah strategi resolusi tahunan sedemikian rupa, yang intinya ialah bagaimana menjadikan semua itu bisa dicapai, hingga di ujungnya saya bisa merasa melewati perjalanan setahun utuh dan merasa keluar sebagai pemenang. Ingat, sekali lagi, kata kuncinya adalah: m-e-r-a-s-a. :) :)

Tindakan pertama, kurangi jumlah resolusi. Ini membuat saya fokus dan menghindar dari mentalitas belum-belum sudah merasa kewalahan. Yang kedua, bingkai ulang tiap resolusi – yang sudah berkurang jumlahnya itu --  sehingga target tiap resolusi jatuh di titik imbang (sweet spot) antara tantangan dan kemudahan. Sweet spot itu penting, karena terlalu mudah bikin kita males. Sebaliknya, terlalu sukar bikin kita down.

Lalu, yang terakhir, menggabungkan ke dalam resolusi-resolusi serius dan sungguhan ini resolusi-resolusi kecil, yang mudah sekali dicapai – kalau kita mau -- dan ada unsur lelucuannya. And they turned out to be real fun and energy booster!! :)

Buat saya contoh sungguhan resolusi lelucuan ini adalah satu yang saya buat di penghujung tahun 2015 saat berada di Banyuwangi, yakni mengaktifkan kembali akun Instagram yang serta merta mati suri begitu akun itu dibuat satu setengah tahun sebelumnya. Contoh lainnya: menonton minimum sepuluh film Indonesia di gedung bioskop dan belajar renang (ya, memalukan memang, saya tidak bisa renang, meski beruntung bisa snorkeling sana sini dari Weh, Bira, Bunaken, hingga Banda). Keduanya berasal dari Desember 2016

Lalu, coba tebak?!? Tentu saja, mereka bisa dicapai!

Meski selama dua tahun belakangan saya belum berhasil memiliki rerata satu positing perhari, dan dengan follower hanya sebanyak jumlah jari, paling tidak, melalui insta, saya konsisten mengakumulasi memori visual tentang hal-hal yang saya gemari. That is something! Lalu, tahun ini, akhirnya saya bisa menonton enam belas film Indonesia di bioskop dan menyelesaikan pelajaran renang dasar di bulan September lalu. And surely, all these small victories boosting my year end energy!!


Dari pengalaman dua tahun belakangan itulah saya berniat mempertahankan resolusi-resolusi kecil tadi. Biasanya, untuk resolusi yang serius, saya simpan buat diri sendiri. No way saya bagi. Malu soalnya. Tapi untuk yang lelucuan itu, asik juga kalau dibagi. Selain bikin makin semangat, siapa tahu bisa mengilhami.

Jadi demikianlah. Buat tahun 2018, resolusi lelucuan saya adalah: belajar diving dan mengaktifkan blog dengan paling tidak delapan belas posting sepanjang tahun. Sounds achievable, right?!

Wuhuuu! Bismillah! Please help me, God! Ngomong-ngomong, apa resolusimu?

A Year End Reminder

You’re a kid once, full of hope, curiosity, and creative rebellion. Your imagination knew no boundaries. You made up stories and pretended. You broke the rules, here and there, and you colored outside the lines. You marveled at just about everything, and you felt seduced. Seduced to have fun, to take a dare, to wander and wonder, to questions the way things have always been done, to yearn and to learn, and to seek new quests and half-crazy adventures. Hold on to those dearly! Hold on to those dearly!

Keep the rebel artist, scientist, adventurer and joker inside you, alive!

Monday, December 18, 2017

Banda Top Thirteen

Sabtu, 7 Januari 2017.

Kapal PELNI yang akan membawa kami kembali ke Ambon dari Banda datang terlambat. Sedianya, mereka merapat jam dua belas siang tadi. Tetapi sekarang sudah jam sembilan malam, dan tidak ada tanda-tanda kapal mendekat. Lampu di kamar penginapan kami, The Nutmeg Tree, sudah dipadamkan. Gunung Api, yang langsung menghadap jendela kamar, tampak seperti tumpeng raksasa yang pekat. Di latar belakangnya, langit cerah bertabur bintang,


Malam itu, Riri dan anak-anak sudah tertidur. Saya sendiri terlalu bersemangat untuk bisa tertidur: membayangkan perjalanan 7 Jam PELNI yang serasa seperti 'once in a lifetime journey' itu. Dalam gelap, sembari mengisi waktu, saya mengetik menggunakan telepon genggam yang pendar layarnya saya redupkan. Tigabelas hal yang paling saya sukai tentang Banda selama sepekan kami tinggal di sana. Seperti ini hasilnya:
  1. Pick your favourite viewing points to enjoy the beauty of Banda Neira above the sea level. Mine are: area around the main harbour, Belgica Fort, Hollandia Fort, and the airstrip. View from the top of Gunung Api as well as the Neira light house must be great too. We didnt have a chance to go hike the mountain.
  2. Pick your favourite diving/ snorkeling spot out of the 26 spots available in the Islands. This is the main reason why people from around the world come to Banda. You need at least 8 days to explore them all.. :) :)
  3. Soak in the history of Banda: spice trade, colonization, and the early modern nationalist movement of Indonesia: Hatta, Sjahrir, Tjipto Mangunkusumo, and many more..
  4. Enjoy the old world charm of crumbling villas, forts, chinese temple, and old-houses of Banda It is like opening an architectural time-capsule spanning 300 years of architectural style. 
  5. Sunrise or sunset running/ jogging/ strolling at Banda's rarely used airstrip, which offers a magnificent view to all directions. Jogging/ running cross-villages is also a great things to do. In fact we believe that there should be a Banda 10K or half marathon :) 
  6. One day trip exploring Banda Besar: old plantations tour, nutmeg coffee, magnificent view of Banda from the crumbling Hollandia Fort, or just enjoying the neatly arranged villages along the western coastline of the Island, plus few secluded beaches. 
  7. And another one day for Island hoping trip, for the boat ride, breezy fresh air sensation, and quiet creamy beaches. 
  8. Mingle with locals -- Bandans are very friendly -- or watching kids playing many kinds of traditional games almost in every corner of the villages. 
  9. While good restaurant is practically not exist in Banda, you can still rely on hotels willing to preape a special meal (dinner or lunch) cooked for you. We tried these three -- Cilu Bintang, Maulana, and Nutmeg Tree -- they are top notch! For street food, try Banda's speciality: nasi kuning, terong kenari, panekuk selai pala, teh bunga pala. 
  10. People are talking about morning climb of Gunung Api: a 650+ m mountain offering breathtaking view of all Banda Islands from its summit. We did not have a chance to do this. But must be great.
  11. The excellently renovated Fort Belgica offers a great view point as well as a place to interact with locals, especially in the late afternoon until sunset. 
  12. Enjoying the chaotic 7 hours PELNI trip from Ambon to Banda and back. This is, for me, an experience of a lifetime, and can be extremely fun, if you know how to enjoy it.. :) 
  13. If you can, try to stay at Nutmeg Tree. A micro hotel with only four beautifully appointed rooms, an attached dive center, million dolars view, great staff - great food, and Banda Bay as the hotel private pool, with a price that make sense. This is so far -- considering all angles -- our most favourite hotel in all family trip we have ever done in the past 15 years.. :) Cilu Bintang is also a great place to stay, especially if you are looking for a rich insider story of Banda and a meeting point with travellers from around the world. Good food too!
Saya sempat terlelap sejenak, saat kapal PELNI Nggapulu akhirnya berlabuh setengah dua pagi. Bunyi klaksonnya menggema gagah di perairan Banda. Terdengar sempurna, seperti undangan untuk berpetualang. Kami semua bangun dan bergegas menuju dermaga, sekitar seratus meter dari penginapan. Di Nggapulu, saya berusaha untuk mendapatkan kamar VIP milik bawahan langsung Kapten Kapal dengan AC dan kamar mandi di dalam untuk perjalanan tujuh jam menuju Ambon dari Banda. Rasanya, kami sekeluarga, akan ingat perjalanan ini selamanya..



Saturday, December 16, 2017

Sihir Bandaneira

Bapak berkepala pelontos dan berperut buncit, warga negara Paman Sam itu, barangkali berusia 55 tahun. Ia masih sangat lincah. Kaos oblong yang ia kenakan menunjukkan kegemaran menyelam. Di tambah pantalon pendek khaki ala jagawana, dan sepatu outdoor adventure yang gagah. Suaranya lantang dan amat bersahabat, khas turis Amerika yang cerewet dan jago mengomentari segala hal. Kami berada di Doha dalam perjalanan bersama menuju NYC.

Saya yang terpaut lima orang dalam sebuah antrian dibelakangnya, tertahan lebih dari sepuluh menit. Petugas sibuk menggeledah isi semua kotak -- berisi ragam lensa dan semua perangkat pendukungnya -- dalam ransel raksasa yang ia gendong ke kabin. Tapi bukan itu yang paling menarik dan membuat saya betah bertahan dalam antrian dibelakangnya, melainkan cerita-cerita sampingan yang ia tuturkan penuh semangat kala membongkar tas dan menunjukkan satu persatu peralatannya kepada petugas. Si Bapak ini ternyata baru kembali dari perjalanannya selama sebulan di Banda Neira dan satu bulan yang lain menjelajah Flores, dari Komodo, Bajo, hingga Maumere. Dari gaya bertuturnya nampak sekali Bapak ini amat bahagia dan terpuaskan dengan petualangan yang baru saja ia lalui, sebahagia penziarah ketuhanan yang baru saja menuntaskan perjalanan spiritualnya.
Kami tak sempat berkenalan. Tapi di saat pesawat hendak lepas landas dari Doha, saya masih sempat mendengar suara khasnya membuka obrolan, mungkin dengan orang asing di sebelah tempat duduknya, dan sekali lagi ia memutar ulang kisahnya tentang Banda, dan alam ajaib di atas maupun di bawah permukaan lautnya. Nampaknya dia berada di lorong lain beberapa deret di depan saya..

Kejadian itu sudah hampir tiga minggu lalu. Tapi sampai sekarang saya masih terkagum-kagum dengan Bapak ini. Seusia dia, sejauh Amerika, dan masih terpanggil menempuh perjalanan tiga hari nonstop atau lebih dari New York ke Bandaneira.Tapi tentang Banda dan Flores, siapa sih pelancong sejati yang tidak akan tergiur oleh rayuan eksotika dua gugus kepulauan ini?

Bicara tentang eksotika, kemarin saya menemukan buku indah yang memaparkan kemolekan Banda dari berbagai seginya, 'Bandaneira: Hidden Histories and The Miracles of Nature'. Ditulis keroyokan oleh nama-nama besar mancanegara maupun Nusantara yang, kelihatan sekali dari cara bertuturnya, jatuh cinta mati pada kepulauan ini. Sebuah nasi campur lezat yang mengawinkan travelogue, sastra, legenda, sejarah, catatan akademis, esai sosial politik, keseharian, dan trivia yang menghibur. Saya menghabiskan weekend saya membaca buku setebal 240 halaman ini..

Kami sekeluarga beruntung sempat mampir ke Banda selama hampir sepekan di penghujung tahun lalu. Sayangnya di bulan yang salah, karena harus menyesuaikan dengan libur anak-anak, sehingga hanya tersisa lima dive/ snorkel spot dari dua puluh enam yang ada, yang masih aman untuk diselami. Kami juga suatu kali terjebak badai di selat kecil yang memisahkan Lonthor dan Neira. Menakutkan dan basah kuyup tapi anak-anak ketawa-ketiwi aja.

Banda is not for everyone. Bagi sementara orang perjalanan kesana mungkin terasa amat menyiksa. Bagi kami berempat, ternikmati sebagai petualangan tersendiri. Bagi sebagian, Banda akan terasa amat sunyi dan membosankan. Bagi kami, Banda is simply surgawi.

Waktu itu, setahun yang lalu, belum juga meninggalkan Neira, kami sudah bersepakat untuk mengunjungi lagi kepulauan ini, suatu saat nanti. Lila sudah memulai snorkeling pertamanya di pulau tikus Bengkulu, beberapa bulan lalu, sementara saya perlu segera memulai pelajaran selam pertama saya, hopefully, Januari.

Dengan ijin Tuhan, Banda. Dengan ijin Tuhan, kita akan bersua kembali..