Saturday, February 9, 2019

Antara Rostock Dan Dusseldorf Di Tanah Jawa

Di empat bulan terakhir program master yang saya selesaikan sekitar lima belas tahun lalu (udah tua yah? 🤣) saya beruntung sekali mendapatkan dua projek besar marketing lintas negara. Projek ini memaksa saya mendatangi kota-kota kece seperti Brussels, Paris dan Amsterdam. Tapi bukan ketiga kota itu yang paling saya kenang seumur hidup. Melainkan berjam-jam perjalanan darat dari highway ke highway ‘nyaris’ dari ujung ke ujung Jerman.

Saya mengawalinya dengan Rostock, sebuah kota kecil di tepian laut Baltik yang masih amat kental aura Jerman Timurnya. Kemudian disusul dengan kota hedonistik, Hamburg, yang menghadap North Sea. Lalu Bremen dan Hannover, dua kota ampuh lainnya di Jerman Utara.

Saya juga menyisir negeri North-Rhein Westphalen yang begitu progresif. Koln, Duisburg, Achen, Dusseldorf sampai Frankfurt adalah kota-kota cemerlang. Saya juga berhenti di Stuttgart dan mengunjungi klien di Leverkusen, kampung halaman raksasa farmasi, Bayer.

Sensasi highway-to-highway (orang Jerman menyebutnya AutoBahn)  — dengan semua kemolekan pemandangan Germania, tapi juga kebosanan dan rasa penat yang baru bisa pupus setelah ngopi sejenak di rest area — ini amat membekas di hati saya. Sampai bertahun-tahun kemudian, debar-debarnya tak pernah saya rasakan lagi. Tidak pernah terulangi! Hingga sepekan lalu, ketika saya menempuh Jakarta-Semarang, lalu ke Solo, nyaris tanpa keluar pintu tol sama sekali, kecuali untuk mampir makan pecel (!) di Semarang 😋..

Ini sebuah 525 km perjalanan yang bertabur keindahan alam dan, sesekali, rest area dengan semua jajanannya yang menggoda. By the way, jarak ini kurang lebih sama dengan separuh perjalanan dari ujung utara Jerman ke ujung selatannya. Iya, dari segi luas wilayah, memang Jerman hanya seukuran kucing dibandingkan Indonesia.


Tentu saja, kerana tiap hari kita menyaksikan alam Indonesia, maka pegunungan yang megah, sawah yang permai, vegetasi yang intens, dan lanskap yang memikat pun kita rasakan sebagai kelumrahan.

Padahal — kecuali jalur Jakarta Cikampek yang emang caur — banyak sekali episode surgawi di perjalanan ini, terutama bagian Cikopo di pagi hari saat ‘kabut tanah’ tipis menyelimuti persawahan raksasanya, lalu di sekitar Cirebon dengan lanskap pegunungan kapur yang bergerigi dan Ciremai yang landai menyerupai sebaran kurva normal yang sempurna. Dan tentu saja: jalur panjang dari Banyumanik hingga Boyolali (sekitar 60+km) yang totally scenic!

Jika dijalani non-stop dengan kisaran 60-120km/jam, maka waktu tempuh Jakarta-Solo hanya 5jam40menit. Kurang lebih: sama jarak, sama waktu tempuh antara Dusseldorf, di pajak barat Jerman, yang berbatasan dengan Belgia, dengan Rostock, di tepi laut Baltik, di ujung timur laut Jerman. Itulah kenapa saya bilang: perjalanan sepekan kemarin serupa memutar ulang segenap kegirangan dan kenangan mendalam lima belas tahun sebelumnya.

Anyway, saya cuma mau bilang saya merasa amat bersyukur bisa merasakan ini, dan ingin berterimakasih pada semua insan yang telah menjadikan hal yang dulu cuma angan-angan menjadi kenyataan: Sebuah jalan yang layak, tak lebih, tak kurang..

Saya ngerti banget, tol di Jawa, selain masih terasa mahal untuk sebagian penggunanya, juga belum bisa berfungsi penuh layaknya AutoBahn di Jerman. Memang kok, sebagaimana dalam banyak hal lain, kita masih banyak kurang. Tapi paling enggak, meski tak sempurna, satu lompatan baik sudah dimulai..

Happy weekend!