Thursday, September 27, 2018

Dari Muasal-Tunggal Hingga Kenangan: Tujuh Tempat Ngopi Idaman di Jakarta..

Saya suka takjub pada kenyataan bahwa tiap orang punya definisinya masing-masing tentang perasaan 'at home'. Bahkan mereka yang berasal dari kelas sosial sama, etnis dan reliji yang sama, atau dibesarkan dengan cara serupa, bisa tetap saja memiliki konstruksi 'at home' yang amat berbeda. Rasa ’at home’ ini acap kali susah banget dijelaskan: dari mana asalnya, mengapa bisa demikian, dan apa saja unsur-unsur yang membentuknya. Kita begitu saja tahu, kapan saat merasa nyaman, saat serta merta kerasan, saat feeling at home. Dan juga sebaliknya, saat kita merasa ’Ah, enggak banget ini tempat..!!’  

Ketika seorang sahabat menanyakan, mana saja kedai kopi fav di Jakarta, jujur saja, cukup lama saya memikirkan jawaban dari pertanyaan yang kelihatannya sederhana itu. Memang susah, secara di kota ini terlalu banyak kedai kopi bagus. yang tiap-tiapnya mampu menerakan kesan tersendiri. Butuh lebih dari sepekan buat saya bisa pelan-pelan mengerti bahwa indikasi yang paling pas untuk menghakimi satu per satu warung kopi tadi dan menakar kehaibatannya, adalah sesuatu yang amat personal. Yakni: seberapa mereka berhasil membuat saya merasa at home.

Dan perihal at-home ini nampaknya adalah hasil senyawa padu beberapa hal yang melibatkan
(i)  pilihan dan kualitas biji kopi, (ii)  kecanggihan barista-nya, (iii) teknik dan ritual penyajiannya,
(iv) keseluruhan desain dan atmosfir kedai, lalu (v)  harga, dan terakhir, yang justru bisa jadi yang paling penting (vi) energi yang dihasilkan oleh interaksi crowd-nya.  Seberapa jauh senyawa ini menjawab hasrat personal kita dalam hal mengalami kopi, akan menentukan seberapa dalam kepuasan kita terpenuhi.

So berbekal itulah, saya lalu membuat daftar ini: tentang kedai-kedai kopi yang paling saya sayangi di Jakarta dan lingkarannya..

Giyanti, Menteng.
Kekuatan Giyanti ada pada hasratnya untuk mengangkat pahlawan sejati dunia perkopi-an, yaitu biji kopi itu sendiri, yang kalau dinarasikan dengan baik bisa menjelma cerita sa-rat romantika: tentang kompleksitas rasa, tentang asal muasal, tentang perjalanan. Di Giyanti lah, untuk pertama kali saya menaruh perhatian pada terma kopi muasal-tunggal (single-origin coffee), dan terpesona pada nama-nama eksotis serupa Blue Batak, Yellow Catura, atau Papua Wamena. Giyanti juga punya barista yang penuh perhatian dan sabar berinteraksi dengan gerombolan kopi obses yang selalu menuntut ritual seruput yang prima. Dan yah, tempat duduknya yang berdesak-desakan, yang umyek itu, terasa demikian santai dan guyub. 


Fillmore, Karet. 
Sudut sempurna untuk sembunyi dari riuh rendah Jakarta yang membuat nafas sesak. Di saat-saat saya perlu mengisi ulang baterei dan sepenuhnya menjadi diri sendiri, saya lari kesini. Fillmore adalah tempat saya menutaskan rindu pada rangkaian kopi Afrika, manakala saya bosen dengan kopi Indonesia. Nampaknya, di tiap kedatangan sa-a, Fillmore selalu punya satu atau dua simpanan biji kopi muasal-tunggal dari Afrika. Berbeda dengan kopi Indonesia yang macho itu, karakter kopi Afrika umumnya feminin: light, floral, fruity.   


Goni, Kemang. 
Sulit menjelaskan mengapa tempat ini bisa menjadi favorit keluarga kami. Penampilan yang terlampau bersahaja, nyaris kumuh, membuat siapapun yang melintasi Kemang Timur mudah mengabaikannya. Tapi adalah Goni yang mengenalkan pada putri bungsu kami kopi seduh-dingin (cold brew), minuman favoritnya beberapa bulan terakhir. Paling tidak sepekan sekali, Sabtu atau Minggu pagi, kami rajin berbondong-bondong ke Goni, ngareriung tanpa agenda, tanpa ekspektasi.

Meski susah menjelaskan, resep kedai kopi keren itu pasti balik ke hal-hal dasar tadi: kopi yang baik, barista yang nyambung, dan atmosfir yang pas dengan kecenderungan batinmu. Kedai kopi ini juga asik karena aroma global crowd-nya. Mungkin Karena lokasinya di bilangan Kemang, konsentrasi tempat tinggal ekspat di Jakarta.  Dan terak-hir, di atas segalanya. mengapa kami respek sekali sama Goni, ialah karena tenggang-rasa mereka pada konsumen yang sudah susah payah banting tulang cari wang. Walau kualitas kopi dan penyajiannya berada di atas standar, harga yang Goni bebankan kepa-da pelanggan, amat lah sopan.


Caswells, Ampera. 
Favorit berat saya dan Riri: kopi di atas rerata dengan kualitas penyajian yang solid, kerumunan yang down-to-earth -- yang seperti tidak butuh membuktikan apa-apa pada dunia, yang tak punya kebutuhan untuk ‘melihat’ dan ‘dilihat’ -- dan keseluruhan atmosfir kedai yang memadukan berbagai elemen kopi. Dari deretan mesin kopi yang kinclong, sebuah ruangan sangrai yang tembus pandang, pajangan dan aroma yang menguar dari berbagai biji kopi yang dijajakan, dan atmosfir Skandinavia yang kental pada perabotan dan keseluruhan interiornya. Sayang oh sayang, Caswells sudah dikubur sekarang, dibeli oleh pemodal raksasa dari Surabaya. Sebuah kehilangan besar untuk pecinta kopi Jakarta. Saya ga bisa move on dari kejadian itu. Selalu diserbu pilu jika mengenangnya. Kini, tiap saya melintas di depan Ampera sembilan, tempat dulu Caswells berada, dengan segenap hati, saya sumpah-serapahi penghuni barunya


Chief, Ciragil 
Hampir tiap pagi saya berhenti di kedai ini dalam perjalanan menuju kantor, usai mengantar anak-anak berangkat ke sekolah. Rasanya tidak pernah sekalipun kopi saringnya ga-gal, buah tangan barista-barista mudanya yang amat bersahabat. Chief cenderung mengundang orang yang itu-itu juga – kebanyakan profesional, orang kreatif, dan entrepreneur --  di jam-jam yang itu-itu juga, membuat saya hafal wajah, dan berkenalan dengan satu dua diantara mereka. Sering saya berniat berhenti sesaat di Chief sebelum melanjutkan perjalanan menuju meja kerja di kantor, dan berakhir dengan kerja ber jam-jam di sini sampai menjelang makan siang. Padahal tak satupun perkakas duduknya memenenuhi prasyarat ergonomika. 

Rosso, Pasmod BSD
Micro coffee roastery di emperan Pasar Modern BSD ini menyelusup dengan luwes diantara toko kelontong dan gerai bahan mkanan segar untuk kebutuhan rumah tangga. Deretan toples biji kopi dari berbagai daerah di meja barista mewartakan kebanggaan Rosso pada kopi Nusantara. Tiap menginap di rumah BSD, kami selalu menyempatkan kesini. Dan selalu dengan komposisi ini: double espresso on the rocks untuk saya, picollo late untuk Riri, dan cafe latte untuk Tara. Sementara itu, anak saya yang paling kecil lebih suka memesan bakpau dan menikmati coretan-coretan yang memenuhi dinding ruangan lantai atasnya.




Bakoel Koffie, Cikini
Buat saya Bakoel Koffie adalah MEMORI. Dengan M besar, E besar, M besar sekali lagi, O besar, R besar dan I besar. Tempat charming, di lingkungan yang gak kalah charming ini, sepenuhnya berisi tentang hal-hal baik dari masa lalu bernama memori. Meski kualitas kopinya naik turun gak karuwan, saya tetap sesekali ke Bakoel Koffie. Saya mengimani bahwa: kenangan-kenangan yang baik, sebagaimana secangkir kopi yang baik, perlu digenggam dengan segenap hati. Dan kerana itu, Bakoel Koffie ada di daftar ini.

Selain tujuh kedai itu, beberapa tempat lain yang saya suka juga adalah: Tobby’s Estate, Kapuk | Djournal, Blok M | Shoot Me In The Head, Duren Tiga | But First Coffee, Dharmawangsa | Anomali, Setiabudi | Tanamera, Gading Serpong | juga Djule, Blok M dan Torna Do Coffee, Kemang. Sayang, dua yang terakhir ini juga sudah almarhum

Jadi, Mas, ngopi kemana hari ini?

Tuesday, September 25, 2018

Sesekali, Tak Ada Salahnya..

Sambil temenin Lila belajar UTS, saya iseng2 mindahin tabel jumlah penonton film Indonesia selama sepuluh tahun terakhir. Angka 2018 adalah projeksi sangat konservatif berdasar penjualan tiket sampai Sep. Dan trendnya sangat menggembirakan. 😇 At least tiga tahun terakhir, setelah stagnasi yang panjang.

---

Setiap tahunnya Indonesia konsisten memproduksi lebih dari 110 film layar lebar. Paling tidak 10% diantaranya, atau sekitar 10-12 film, kualitasnya sangat bagus. Tapi saya masih sering menemukan -- bahkan diantara teman-teman dekat yang amat berpendidikan -- mereka yang merasa nonton film Indonesia itu buang-buang duit dan waktu. Mending nonton Hollywood. 'Pasti bagus!' kata mereka. Tentu saja nonton film itu perihal selera. Dan tak ada benar salah. Tapi kalau mau industri kita berjaya, siapa lagi yang perlu kasih apresiasi, siapa yang harus merayakannya, kalau bukan diri sendiri?

---

Nah, apakah market share 37% itu OK? Menurut saya sih: not bad. Cukup respectable lah sebenarnya pangsa pasar film lokal kita versus serbuan film impor. Pangsa pasar ini tentu akan merambat naik seandainya teman-teman saya yang tadi, bersedia mencicipi barang satu dua film lokal terpilih setiap tahunnya. Kali ini saya punya bocoran, diantara film-film lumayan itu, dua diantaranya akan diputar dalam waktu dekat: 'Aruna dan Lidahnya', sebuah film tentang perjalanan kuliner dan bagaimana rasanya jomblo di usia 30an; Dan science fiction indie movie berjudul 'Tengkorak', sebuah percobaan terpuji, karena: 'kapan sih kita terakhir nonton film Indonesia dengan genre science fiction?'. Jawab: 'Jaman Nabi Adam!' 😅

---

Jadi, lupakan sejenak itu pertikaian politik. Duduk manis di baris belakang, popcorn di pangkuan, bersebelah dengan pasangan atau teman atau kekasih gelap atau gebetan. Whichever suits you.
Sekali-kali gak ada salahnya kok, nonton film berbahasa Indonesia.. 😇



Saturday, September 8, 2018

Mana Yang Lebih Penting, Sultan Agung?


Mana yang lebih penting: produk yang bagus dan berkualitas, atau marketing yang bagus dan berkualitas (walau produknya asal-asalan)? Buat kami, yang dibesarkan sebagai orang-orang komersial, pertanyaan filosofis ini mudah sekali dijawab tanpa sedikit pun keraguan: marketing di atas segalanya!

Adalah kesepakatan umum, budidaya konsumsi kopi, jelato, dan pizza terbaik ada di Ita-lia. Tapi jagad konsumsi perkopian, per-esgrim-an, dan per-pizza-an dunia dikuasai oleh tiga merek: Starbucks, Haagen-Dazs, dan  Pizza Hut. Tak satupun dari berasal dari Ita-lia. Demikan pula dengan cokelat: dihasilkan di Indonesia (dan Brazil dan beberapa nega-ra lain), dijadikan mahakarya oleh orang-orang Belgia, namun dunia konsumsi cokelat dikuasai oleh mereka yang memiliki pemasar terbaik, yakni Inggris, melalui Cadbury.

Kita bahkan tak yakin: apakah Pizza di Pizza Hut itu beneran Pizza dan Cadbury (dengan kandungan cokelat yang amat rendah itu) masih bisa dianggap sebagai cokelat. Tapi demikian lah kenyataannya: sebagian besar konsumen punya pendapat lain.

---

Inilah yang saya rasakan usai menonton Film Sultan Agung, yang barangkali adalah ca-paian tertinggi Mas Hanung Bramantyo sepanjang karirnya sebagai sutradara. Film ko-losal dengan deretan pemeran luar biasa ini mungkin ditonton kurang dari seratus ribu orang. Dan dalam rentang tiga minggu, tertinggal di hanya beberapa layar sinema. Ku-rang dari sepuluh layar? Trenyuh.

Padahal film ini mengantongi terlalu banyak sisi unggul: drama dan skenario yang baik, yang memadukan unsur: laga, cinta, humor, pelintiran (twist) dan pengkhianatan, sadis-me, perang, dan juga sejarah. Semuanya dengan perimbangan yang pas dan padu, dan dieksekusi dengan smooth. Saya juga suka dengan banyaknya kisah personal yang saling berkait, sisi yang sehari-hari dan manusiawi, yang ditenun dalam bingkai kejadian besar: kekacauan Mataram dan penyerbuan ke Batavia (1625-1629), juga racikan nasionalisme yang tidak hitam putih dan menggurui tapi sekaligus sangat bermartabat.

Durasi 2jam 20an menit terasa amat cepat mengalir dalam Sultan Agung, mengunci per-hatian kami hanyut dalam narasi, dan tetiba film usai (!). Saya menonton berdua dengan istri, bubaran kantor, dan sepanjang perjalanan pulang di mobil, masih juga memperbin-cangkannya. Buat kami berdua – yang memang gemar nonton film apa aja: dari horror, action, banyol, sampai avant garde – ini adalah indikasi bahwa film yang barusan kami tonton itu menyisakan kesan yang kuat.

Kalau ada yang bisa diperbaiki, mungkin kualitas CGI (computer generated imagery, animasi). Yeah, hal ini bisa saya maafkan. Indonesia memang masih belum kuat dalam hal ginian, meski di film Wiro Sableng, kita liat lompatan luar biasa, sampai-sampai Angga, sang sutradara, harus berkali-kali menjelaskan bahwa 20th Century Fox hanya membantu dalam hal pendanaan, promosi dan distribusi. Dan urusan CGI ini sepenuhnya ditangani barudak lokal.

Tapi, menimbang semuanya, Sultan Agung, adalah film paling memuaskan yang saya tonton di sepanjang 2018. Sedemikian terpuaskan, saya, yang pemalas itu, sampai me-nyempatkan bikin status sepanjang ini di FB.. :) Saya juga perlu menyebut bahwa per-mainan Putri Marino di film ini, saya duga, akan memenangkan Piala Citra keduanya, setelah ia memenangi piala ini di Film Posesif, tahun lalu. Keren, lah, pokoknya!!

Happy Weekend!