Menikmati berbagai sound ini, juga menuliskan daftar tentangnya, buat saya menjadi semacam tamasya. Sebuah penjelajahan, serupa travelling. Kalau ke Marrakech atau Barcelona itu yang jalan bodi kita. Melihat lanskap baru, langgam arsitektur yang berbeda. Bertemu orang-orang asing, mencium bau masakan yang lain. Bagi mereka yang jeli, travel juga mengajari kita merasakan bahwa sinar mentari dan warna langit di banyak belahan bumi itu berbeda.
Penjelajahan suara kurang lebih sama dengan travelling. Hanya saja, sensasinya ada di telinga, dan mungkin bagian lain – yang saya tak tau apa tepatnya itu – tapi intinya berhubugan dengan rasa estetika dan penyegaran batin.
Kita mungkin sangat terbiasa dengan format top forty, lagu-lagu mainstream sejuta ummat. Atau puas berhenti dengan band-band dan jenis musik kesukaan kita yang berasal masa remaja. Persis sebagaimana – dalam hal makanan -- kita meganggap di luar nasi Padang dan nasi Goreng tak ada yang enak di lidah. Its OK, sah saja. tetapi, sesungguhnya, di luar sana, masih ada banyak sound: kosa-nada-kosa-irama-kosa-suara, yang menawarkan pengalaman yang sepenuhnya lain, dan tak jarang mengayakan. Memberi variasi pada monotonisme dan rutinitas..
So, ini sound saya, akhir-akhir ini..
Bardo (2018), GoGo Penguin
Trio jazz instrumen dengan piano, drum, dan bass betot dari Manchester ini memikat saya dalam sekali dengar: hipnotik, jazzy, tapi juga riuh rendah di atas pentas. Menemukan mereka tak sengaja di salah satu stage Java Jazz awal Maret kemarin, dan sekarang memiliki tiga dari lima albumnya, dalam hitungan hari: thanks to digital revolution yang bikin apapun bisa tersedia secara instan.
Mmmm, saya entah mengapa mudah jatuh cinta sama format trio. Kesannya ’understaffed’ (kekurangan karyawan) untuk sebuah band, tapi sering kali hasilnya outstanding. Liat saja: The Police, Rush, A-Ha, Keane, Emerson Lake and Palmer. Demikian pula dengan trio Manchester GoGo Penguin ini. Ampuh lah, pokoknya!
Pikiran dan Perjalanan (2019), Barasuara
Berbulan-bulan saya menanti rilisan album ini semenjak pertama mendengar bebera-pa komposisi baru mereka di konser We The Fest, Agustus 2018. Mengulang formulasi album pertama, Taifun, hanya sedikit lebih polished dan beatnya lebih poppish. Meski terpuaskan, saya berharap sesuatu yang agak baru dari Barasuara. But cant wait to attend their gig, soon.
No Protection (1995), Massive Attack & Mad Professor
No Protection adalah remix total album kedua Massive Attack, Protection, sebuah band Inggris berasal dari Bristol yang mengusung sekaligus ikut mempopulerkan genre trip-hop, sempalan musik elektronika dan hip-hop yang mengedepankan eksperimentasi suara, pengulangan ritme bass dan downtempo mood. Menemukan kembali CD No Protection di sebuah pasar loak, setelah CD yang lama hilang entah kemana. Contoh remix yang sempurna dalam industri musik, No Protection menafsirkan ulang Protection dan mengubahnya menjadi kumpulan himne lounge music dengan kualitas abadi. Musik favorit saya buat nurunin tensi dalam perjalan pulang dari kantor ke rumah.
Kucumbu Tubuh Indahku, Original Soundtrack Film (2018), Mondo Gascaro
Meski memenangi banyak penghargaan – seperti Cultural Diversity Award (UNESCO) lewat Asia Pacific Screen Award 2018, Bisato D'Oro Award lewat Venice Independent Film Critic 2018, serta Best Film lewat Festival Des 3 Continents Prancis -- Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body) mungkin tidak akan pernah diputar di jaringan bioskop konvensional di Indonesia karena temanya yang menyerempet topik sensitive LGBT. di sejumlah festival dunia dan meraih penghargaan.
Film karya Garin ini, soundtracknya digarap oleh Mondo Gascoro, pentolan di belakang band indie yang fenomenal, Sore. Mondo memadukan keroncong, progressive pop, balada, dan orkestra string sekala kecil. Sendu, retro-nostalgis, dan hipster-ish. Pas menemani drama yang artsy sekaligus emosional sejenis Kucumbu Tubuh Indahku.
Toto Debut Album (1977), Toto
”Toto itu ternyata rock banget ya? Aku gak pernah inget mereka se-ngerock ini?!” Itu komentar istri saya usai kami menonton Toto live di Java Jazz awal maret kemarin. But that’s exactly Toto: mereka memiliki kepiawaian untuk memainkan berbagai jenis musik dengan tingkat kecanggihan yang sama. Di awal karirnya, Toto banyak dicerca oleh para kritisi yang kebingungan memasukkan mereka ke dalam salah satu genre terten-tu: rock, jazz, atau pop? Tapi kategorisasi kan memang gak pern
Ketiga pentolan utamanya, David Paich, Steve Lukather, dan Jeff Porcaro, masing-masing pada piano, gitar, dan drum memang memiliki kecenderungan musikalitas yang berbeda. David terdidik dalam musik klasik, Steve yang hard rock to the bone, lalu Jeff yang jazzy. Dan itu yang bikin Toto sangat keren. Ketika Jeff almarhum dan David jarang lagi aktif, Steve mengambil alih kepemimpinan dan menyeret Toto ke domain rock, dan closing live di Java Jazz malam itu secara vulgar mempertontonkan hal ini: kecintaan pada rock dan kepiawaian Steve memainkan gitar melalui solo dan jam yang berkepanjangan.
Album pertama Toto ini adalah salah salah satu album terbaik mereka, dan dilahirkan saat mereka baru berusia awal 20an. Melahirkan banyak hits abadi dengan kualitas musikal tak tertandingi: Child’s Antem, Ill Supply The Love, Hold The Line, Georgy Porgy.
Tranquility Base Hotel and Casino (2018). Arctic Monkeys
Menemukan band ini saat saya sudah menua :) di album pertama mereka di tahun 2006, ’Whatever People Say I am, Thats What I am Not’, dan semenjak itu kecanduan sampai album terakhir mereka, album ke tujuh, Tranqulity Base. Band ini juga menciptakan sejarah sebagai band pertama yang membagikan secara gratis musiknya lewat digital channel, dan baru kemudian menjualnya secara komersial belakangan. Mereka menembus pasar dan meraih status megastar-nya praktis dengan bantuan internet dan menjadi template bagi artis-artis baru menembus belantara pasar tanpa bantuan pe-rusahaan rekaman yang mapan.
Arctic Monkeys memenangi dan dinominasikan di banyak sekali penghargaan dari Brit Awards, Grammy, hingga Mercury Prize. Kekuatan musik mereka ada pada energi punk yang meluap-luap, permainan gitar dan drum yang sangat efektif, tapi juga segar, dan dengan sensibilitas lirik yang riil dan personal. Grup ini juga amat spesial di hati saya, karena di tiap albumnya mereka selalu mengeksplor wilayah musik yang berbeda dari rilisan sebelumnya, kecuali di album keduanya yang seperti copycat album pertama.
So guys, whats your listening list, akhir-akhir ini?





