Sunday, March 10, 2019

Mendengar Adalah Menjelajah: Listening List Saya Sebulan Terakhir

Lama sekali semenjak saya terakhir menulis catatan tentang daftar dengar (listening list), berisi sound – musik, tentu saja – yang belakangan saya dengar berulang-ulang, nyaris menjadi soundtrack keseharian. Padahal daftar dengar ini – sebagaimana daftar bacaan, daftar tempat ngopi, dan daftar destinasi travel yang diimpi-impikan – penting terus menerus dibuat dan diperbaharui, dan mungkin juga diobrolkan, sebagai medium detox dari daftar lain. Daftar yang makin lama-makin menumpuk dengan percepatan tinggi, yakni daftar pekerjaan.

Menikmati berbagai sound ini, juga menuliskan daftar tentangnya, buat saya menjadi semacam tamasya. Sebuah penjelajahan, serupa travelling. Kalau ke Marrakech atau  Barcelona itu yang jalan bodi kita. Melihat lanskap baru, langgam arsitektur yang berbeda. Bertemu orang-orang asing, mencium bau masakan yang lain. Bagi mereka yang jeli, travel juga mengajari kita merasakan bahwa sinar mentari dan warna langit di banyak belahan bumi itu berbeda.

Penjelajahan suara kurang lebih sama dengan travelling. Hanya saja, sensasinya ada di telinga, dan mungkin bagian lain – yang saya tak tau apa tepatnya itu – tapi intinya berhubugan dengan rasa estetika dan penyegaran batin.

Kita mungkin sangat terbiasa dengan format top forty, lagu-lagu mainstream sejuta ummat. Atau puas berhenti dengan band-band dan jenis musik kesukaan kita yang berasal masa remaja. Persis sebagaimana – dalam hal makanan -- kita meganggap di luar nasi Padang dan nasi Goreng tak ada yang enak di lidah. Its OK, sah saja. tetapi, sesungguhnya, di luar sana, masih ada banyak sound: kosa-nada-kosa-irama-kosa-suara, yang menawarkan pengalaman yang sepenuhnya lain, dan tak jarang mengayakan. Memberi variasi pada monotonisme dan rutinitas..

So, ini sound saya, akhir-akhir ini..

Bardo (2018), GoGo Penguin
Trio jazz instrumen dengan piano, drum, dan bass betot dari Manchester ini memikat saya dalam sekali dengar: hipnotik, jazzy, tapi juga riuh rendah di atas pentas. Menemukan mereka tak sengaja di salah satu stage Java Jazz awal Maret kemarin, dan sekarang memiliki tiga dari lima albumnya, dalam hitungan hari: thanks to digital revolution yang bikin apapun bisa tersedia secara instan.


Mmmm, saya entah mengapa mudah jatuh cinta sama format trio. Kesannya ’understaffed’ (kekurangan karyawan) untuk sebuah band, tapi sering kali hasilnya outstanding. Liat saja: The Police, Rush, A-Ha, Keane, Emerson Lake and Palmer. Demikian pula dengan trio Manchester GoGo Penguin ini. Ampuh lah, pokoknya!

Pikiran dan Perjalanan (2019), Barasuara
Berbulan-bulan saya menanti rilisan album ini semenjak pertama mendengar bebera-pa komposisi baru mereka di konser  We The Fest, Agustus 2018. Mengulang formulasi album pertama, Taifun, hanya sedikit lebih polished dan beatnya lebih poppish. Meski terpuaskan, saya berharap sesuatu yang agak baru dari Barasuara. But cant wait to attend their gig, soon.


No Protection (1995), Massive Attack & Mad Professor
No Protection adalah remix total album kedua Massive Attack, Protection, sebuah band Inggris berasal dari Bristol yang mengusung sekaligus ikut mempopulerkan genre trip-hop, sempalan musik elektronika dan hip-hop yang mengedepankan eksperimentasi suara, pengulangan ritme bass dan downtempo mood. Menemukan kembali CD No Protection di sebuah pasar loak, setelah CD yang lama hilang entah kemana. Contoh remix yang sempurna dalam industri musik, No Protection menafsirkan ulang Protection dan mengubahnya menjadi kumpulan himne lounge music dengan kualitas abadi. Musik favorit saya buat nurunin tensi dalam perjalan pulang dari kantor ke rumah.


Kucumbu Tubuh Indahku, Original Soundtrack Film (2018), Mondo Gascaro
Meski memenangi banyak penghargaan – seperti Cultural Diversity Award (UNESCO) lewat Asia Pacific Screen Award 2018, Bisato D'Oro Award lewat Venice Independent Film Critic 2018, serta Best Film lewat Festival Des 3 Continents Prancis -- Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body) mungkin tidak akan pernah diputar di jaringan bioskop konvensional di Indonesia karena temanya yang menyerempet topik sensitive LGBT. di sejumlah festival dunia dan meraih penghargaan. 


Film karya Garin ini, soundtracknya digarap oleh Mondo Gascoro, pentolan di belakang band indie yang fenomenal, Sore. Mondo memadukan keroncong, progressive pop, balada, dan orkestra string sekala kecil. Sendu, retro-nostalgis, dan hipster-ish. Pas menemani drama yang artsy sekaligus emosional sejenis Kucumbu Tubuh Indahku.

Toto Debut Album (1977), Toto
”Toto itu ternyata rock banget ya? Aku gak pernah inget mereka se-ngerock ini?!” Itu komentar istri saya usai kami menonton Toto live di Java Jazz awal maret kemarin. But that’s exactly Toto: mereka memiliki kepiawaian untuk memainkan berbagai jenis musik dengan tingkat kecanggihan yang sama. Di awal karirnya, Toto banyak dicerca oleh para kritisi yang kebingungan memasukkan mereka ke dalam salah satu genre terten-tu: rock, jazz, atau pop? Tapi kategorisasi kan memang gak pern


Ketiga pentolan utamanya, David Paich, Steve Lukather, dan Jeff Porcaro, masing-masing pada piano, gitar, dan drum memang memiliki kecenderungan musikalitas yang berbeda. David terdidik dalam musik klasik, Steve yang hard rock to the bone, lalu Jeff yang jazzy. Dan itu yang bikin Toto sangat keren. Ketika Jeff almarhum dan David jarang lagi aktif, Steve mengambil alih kepemimpinan dan menyeret Toto ke domain rock, dan closing live di Java Jazz malam itu secara vulgar mempertontonkan hal ini: kecintaan pada rock dan kepiawaian Steve memainkan gitar melalui solo dan jam yang berkepanjangan.
Album pertama Toto ini adalah salah salah satu album terbaik mereka, dan dilahirkan saat mereka baru berusia awal 20an. Melahirkan banyak hits abadi dengan kualitas musikal tak tertandingi: Child’s Antem, Ill Supply The Love, Hold The Line, Georgy Porgy.   

Tranquility Base Hotel and Casino (2018). Arctic Monkeys  
Menemukan band ini saat saya sudah menua :) di album pertama mereka di tahun 2006, ’Whatever People Say I am, Thats What I am Not’, dan semenjak itu kecanduan sampai album terakhir mereka, album ke tujuh, Tranqulity Base. Band ini juga menciptakan sejarah sebagai band pertama yang membagikan secara gratis musiknya lewat digital channel, dan baru kemudian menjualnya secara komersial belakangan. Mereka menembus pasar dan meraih status megastar-nya praktis dengan bantuan internet dan menjadi template bagi artis-artis baru menembus belantara pasar tanpa bantuan pe-rusahaan rekaman yang mapan.


Arctic Monkeys memenangi dan dinominasikan di banyak sekali penghargaan dari Brit Awards, Grammy, hingga Mercury Prize. Kekuatan musik mereka ada pada energi punk yang meluap-luap, permainan gitar dan drum yang sangat efektif, tapi juga segar, dan dengan sensibilitas lirik yang riil dan personal. Grup ini juga amat spesial di hati saya, karena di tiap albumnya mereka selalu mengeksplor wilayah musik yang berbeda dari rilisan sebelumnya, kecuali di album keduanya yang seperti copycat album pertama. 

So guys, whats your listening list, akhir-akhir ini?

Saturday, February 9, 2019

Antara Rostock Dan Dusseldorf Di Tanah Jawa

Di empat bulan terakhir program master yang saya selesaikan sekitar lima belas tahun lalu (udah tua yah? 🤣) saya beruntung sekali mendapatkan dua projek besar marketing lintas negara. Projek ini memaksa saya mendatangi kota-kota kece seperti Brussels, Paris dan Amsterdam. Tapi bukan ketiga kota itu yang paling saya kenang seumur hidup. Melainkan berjam-jam perjalanan darat dari highway ke highway ‘nyaris’ dari ujung ke ujung Jerman.

Saya mengawalinya dengan Rostock, sebuah kota kecil di tepian laut Baltik yang masih amat kental aura Jerman Timurnya. Kemudian disusul dengan kota hedonistik, Hamburg, yang menghadap North Sea. Lalu Bremen dan Hannover, dua kota ampuh lainnya di Jerman Utara.

Saya juga menyisir negeri North-Rhein Westphalen yang begitu progresif. Koln, Duisburg, Achen, Dusseldorf sampai Frankfurt adalah kota-kota cemerlang. Saya juga berhenti di Stuttgart dan mengunjungi klien di Leverkusen, kampung halaman raksasa farmasi, Bayer.

Sensasi highway-to-highway (orang Jerman menyebutnya AutoBahn)  — dengan semua kemolekan pemandangan Germania, tapi juga kebosanan dan rasa penat yang baru bisa pupus setelah ngopi sejenak di rest area — ini amat membekas di hati saya. Sampai bertahun-tahun kemudian, debar-debarnya tak pernah saya rasakan lagi. Tidak pernah terulangi! Hingga sepekan lalu, ketika saya menempuh Jakarta-Semarang, lalu ke Solo, nyaris tanpa keluar pintu tol sama sekali, kecuali untuk mampir makan pecel (!) di Semarang 😋..

Ini sebuah 525 km perjalanan yang bertabur keindahan alam dan, sesekali, rest area dengan semua jajanannya yang menggoda. By the way, jarak ini kurang lebih sama dengan separuh perjalanan dari ujung utara Jerman ke ujung selatannya. Iya, dari segi luas wilayah, memang Jerman hanya seukuran kucing dibandingkan Indonesia.


Tentu saja, kerana tiap hari kita menyaksikan alam Indonesia, maka pegunungan yang megah, sawah yang permai, vegetasi yang intens, dan lanskap yang memikat pun kita rasakan sebagai kelumrahan.

Padahal — kecuali jalur Jakarta Cikampek yang emang caur — banyak sekali episode surgawi di perjalanan ini, terutama bagian Cikopo di pagi hari saat ‘kabut tanah’ tipis menyelimuti persawahan raksasanya, lalu di sekitar Cirebon dengan lanskap pegunungan kapur yang bergerigi dan Ciremai yang landai menyerupai sebaran kurva normal yang sempurna. Dan tentu saja: jalur panjang dari Banyumanik hingga Boyolali (sekitar 60+km) yang totally scenic!

Jika dijalani non-stop dengan kisaran 60-120km/jam, maka waktu tempuh Jakarta-Solo hanya 5jam40menit. Kurang lebih: sama jarak, sama waktu tempuh antara Dusseldorf, di pajak barat Jerman, yang berbatasan dengan Belgia, dengan Rostock, di tepi laut Baltik, di ujung timur laut Jerman. Itulah kenapa saya bilang: perjalanan sepekan kemarin serupa memutar ulang segenap kegirangan dan kenangan mendalam lima belas tahun sebelumnya.

Anyway, saya cuma mau bilang saya merasa amat bersyukur bisa merasakan ini, dan ingin berterimakasih pada semua insan yang telah menjadikan hal yang dulu cuma angan-angan menjadi kenyataan: Sebuah jalan yang layak, tak lebih, tak kurang..

Saya ngerti banget, tol di Jawa, selain masih terasa mahal untuk sebagian penggunanya, juga belum bisa berfungsi penuh layaknya AutoBahn di Jerman. Memang kok, sebagaimana dalam banyak hal lain, kita masih banyak kurang. Tapi paling enggak, meski tak sempurna, satu lompatan baik sudah dimulai..

Happy weekend!

Friday, January 11, 2019

North To South Route: A Trip To Vietnam

Beberapa temen tanya rute jalan saya kemarin bersama keluarga ke Vietnam. Untuk temen-temen Muslim, di banyak tempat ini cari makanan yang strictly halal tidak mudah (kecuali Sai-gon). Paling andalannya adalah makanan India, yang cukup banyak tersebar, atau catering sen-diri (masak sendiri, kalau nginepnya di apt/ Airbnb). Otherwise, ya perlu agak open-minded..

Hanoi (4 malam)
Kebanyakan enjoy kotanya dengan jalan kaki, lalu ada satu hari yang kami sewa mobil agar eksplorasi kotanya bisa lebih menyebar dan cepat.
Diantara empat malam ini ada 1 hari melipir ke Tam Coc/ Na Thrang (2 jam mobil) untuk menyusuri sungai/ gua/ dan hamparan pengunungan karst yang berlapis-lapis. Na Thrang ini menurut saya harusnya diinapi setidaknya 1 malam jadi bisa menjelajah lebih banyak rute dan titik pandang yang luar biasa indah. Kami menggunakan travel agent untuk private trip di Na Thrang

Ha Long bay/ Cat Ba Island (2 malam)
3.5 jam dari Hanoi. Selain menyelusuri hamparan pegunungan karst di lautan, caving, kayaking, swimming mungkin akan lebih lengkap kalau diperpanjang sehari lagi. Jadi selain tinggal satu malam di kapal di Ha Long juga menjelajah Lan Ha bay yang sama cantiknya tapi nyaris tanpa turis dan pulau Cat Ba (cycling, trekking, dan nikmatin quiet seaside town). Di sekitar pulau Cat Ba, tinggal ‘suku Bajau’ Vietnam dan ribuan rumah kapal mereka. Ha Long ini adalah pengalaman unik di Asia Tenggara, mungkin juga dunia. Ha Long hanya bisa dieksplor menggunakan travel agent. Baik Ha Long, maupun Na Thrang di atas adalah dua dari tujuh UNESCO world heritage site di Vietnam.


Hoi An (3 malam) 
Kota kecil ini dulunya adalah trading port tempat bertemunya pedagang-pedagang Vietnam, Cina, Jepang, dan Korea. Mereka berusaha mempertahankan wajahnya seperti 300 tahun yang lalu. Yah, rumah-rumah kuno yang sekarang jadi café, butik, museum, dan restoran-restoran ke-ren. Kalau malam Hoi An jadi hutan lampion. Hoi An ini sangat popular, jadi kadang terasa rusuh, karena banyak banget orang sampai tengah malam. Padahal dulu sepiiii bgt.
Kami melakukan ekskursi ke My Son, kompleks candi terbesar di Vietnam, peninggalan kerajaan Champa. Kalau pas bukan musim hujan sebenarnya asik juga eksplor pantai-pantai Hoi An (4km dari kota tua): versi Bali/ Lombok-nya Vietnam.

Hue (2 malam)
Ibukota kekaisaran Vietnam selama 150 tahun. Forbidden palace, Citadel, Ancient pagodas. Royal tombs. Hue ini juga sangat unik, dan mungkin sedikit sekalu padanannya di Asia Tenggara. Kami menghabiskan waktu nyaris seharian di Forbidden palace-nya dan mnutup hari dengan mengunjungi Vihara terpenting di sana, perfume pagoda dengan setting sungai yang cantik. Hari berikutnya kami mengunjungi 3 dari sekitar 6 kompleks makam raja yang ada di sana.
Hue, juga Hoi An, dan My Son di atas adalah bagian dari UNESCO world heritage site. Vietnam punya 7, ini 3 diantaranya..


HCM City/ Saigon (3 malam)
Pure chill-out. Café/ food/ eskrim/ jalan-jalan sore dan pagi/ museum/ duduk-duduk liatin orang . Kami juga blusukan di Cho Lon, china-townnya Saigon, yang memiliki konsentrasi kuil, masjid, dan gereja tua yang bisa bikin gempor jalan. Saigon ini benernya memiliki banyak sisi glamor buat yang suka. Kami memilih melipir. Mustinya kalau pas di Saigon juga mampir ke Cu Chi Tunnel, jaringan bawah tanah yang dibangung Viet Cong untuk merebut Saigon, saat perang dengan Amerika dulu. Tapi kami dah terlalu capek dan memilih stay di kota saja.


Saya menjalani rute ini 7 tahun yang lalu (minus Ha Long dan Na Thrang). Kali ini ingin mengenalkan pada anak-anak. Tadinya niatnya mau di Indonesia saja (Morotai, Halmahera, Ternate), tapi banyaknya gempa dan tsunami membuat kami memindahkan destinasi.

Yang buat saya moment of truth banget adalah lompatan yang dibuat Vietnam selama tujuh tahun terakhir ini. Kalau liat etos kerja rakyat dan gimana cara pemerintahan mereka bergerak, bukan tidak mungkin, dalam banyak sisi penting, Vietnam akan melahap habis Indonesia kurang dari 15 tahun dari sekarang. Ini ada potongan foto dari World Economic Forum yang seperti mengkonfirmasi kekhawatiran saya, Dari dua puluh kota paling dinamis di dunia: di dalamnya ada dua kota Vietnam!!!