Saturday, November 3, 2018

Destinasi Itu Namanya Sumatera: Lima Belas Pengalaman Terpilih

Tetiba saya kangen berat sama Sumatera, pulau yang selalu tersisihkan tiap kita ngobrol tentang Nusantara. Tak semaju Jawa, tak bisa dibandingkan sama sekali dengan Bali, tak punya eksotika, sebagaimana pulau-pulau di Timur Indonesia. Underdog dari sisi keindahan. Halaman belakang dalam hal bisnis. Dan dipandang sebelah mata tiap bicara tentang sumber daya manusia. Paling tidak itu yang ada di kepala kebanyakan teman dekat saya.

Lalu Sumatera punya apa? Apa imaji kita mendengar kata Sumatera?

Saya beruntung punya banyak kenangan menyenangkan dengan pulau ini. Separuhnya berasal dari rangkaian kunjungan kerja di masa lalu dan sisanya hasil travelling dengan Riri dan anak-anak. Selalu saja ada hal-hal yang ingin saya ulangi dengan Sumatera. Bisa jadi itu sekedar sholat subuh di Masjid Raya Al Mashun Medan atau menikmati sepiring mie celor Pasar 26 Ilir di Palembang. Tepat malam ini, saat menulis catatan ini, saya ingin mengulangi perasaan keruntelan berempat sambil memesan cokelat hangat di sebuah dive resort keren di Iboih, Weh, sekitar satu jam perjalanan dari Sabang.


Rasa kangen yang selintas selintas ini bikin saya pengin mendaftar lima belas hal yang saya paling sukai tentang Sumatera. Tak semuanya sudah saya jalani. Satu dua belum sempat saya lakukan. Tapi semuanya membentuk imaji saya tentang daya pikat Sumatera sebagai sebuah destinasi yang tak kunjung habis memberi inspirasi.

Daftar ini sangat terbatas. Sebagai seseorang yang tak pernah mendaki gunung, saya tidak bisa memasukkan Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Kerinci Seblat, yang justru bisa jadi adalah Sumatera’s best kept secret. Sebagai orang yang tidak bisa menikmati golf dan liburan di resort mewah, saya juga harus menyingkirkan Bintan, yang mungkin memiliki banyak resort keren dan padang golf terbaik di Indonesia.

Tapi kira-kira inilah yang paling saya sukai tentang Sumatera
  • Tenggelam dalam kemegahan alam, budaya, dan kekayaan kuliner Dataran Tinggi Minang. I can easily spend a good ten days exploring Minang Highland: dari Harau sampai Maninjau. Dari Batusangkar hingga Sawahlunto. Dari Nasi Itiak Lado Hijau sampai Bubur Kampiun. Dari Songket Minang hingga Pagaruyung.
  • Napak tilas tragedi tsunami melalui museum, memorial dan menelusuri rekonstruksi Banda Aceh pasca tragedi. Wisata bencana itu pengalaman unik. Ditemani guide yang baik dan berwawasan, ini akan jadi salah satu perjalanan yang membekas sepanjang hayat. Aceh adalah juga ibukota kopi Indonesia. Semua pergi ke warung. Semua minum kopi. Semua pesan sanger arabika. Nongkrong dan ngopi di Aceh itu ritual unik yang mungkin padanannya cuma akan Anda temukan di Casablanca, Maroko.    
  • Mengagumi kekayaan warisan arsitektur kota Medan: kesultanan, kolonial, peranakan, dan komunitas kecil India yang tinggal di sana. Menurut saya, orang Medan sendiri kurang menghargai warisan ini, padahal unik untuk ukuran Sumatra. Saya sendiri sangat berharap beberapa arsitek di sana bisa menyediakan tur berbayar (atau tidak) -- semacam heritage trail walking tour gitu -- yang bisa membantu meningkatkan apresiasi pelancong dan penduduk setempat perihal kekayaan ini.
  • Mengunjungi pusat suaka orang utan dan trekking barang semalam dua malam di Taman Nasional Bukit Lawang. Saya sendiri hanya sempat mengunjungi seharian tempat ini, melakukan pendakian ‘gila’ (gila: karena sangat berbahaya) dengan anak-anak kecil ke gua kelelawar dan ditutup dengan mandi sore di sungai Bahorok. Tapi bertukar kisah dengan sesama traveller dan melihat foto-foto mereka: trekking dengan guide dan bermalam di tengah hutan is a must.
  • Sumatera memiliki tiga gravitasi kuliner dengan akar yang kuat: Aceh, Minang dan Palembang. Sisanya adalah turunan atau tafsiran atau variasi dari tiga pusat gravitasi kuliner ini. Buat saya Palembang memiliki jejak kuliner paling kaya di seluruh Sumatera kerana pertemuannya dengan banyak peradaban besar di masa lampau. Selain makanannya, menyusuri kehidupan sungai Musi di Palembang juga pengalaman yang tak terlupakan, terutama jika dilakukan pagi hari atau sore hari yang cerah. Kecuali panasnya yang bisa bikin kepala pening, Palembang adalah ibukota propinsi yang paling saya sukai di Sumatra.
  • Toba adalah satu hal. Kita tau keindahannya, terutama jika disusuri dari jalur sisi timur ke utara melalui jalur Prapat-Simarjunjung-Sipisopiso hingga Simalem. Tapi yang juga sangat saya suka adalah Samosir: perbukitannya yang terasa purba, menara-menara gerejanya, lalu tradisi dan peninggalan megalitiknya. 
  • Mengunjungi Dataran Tinggi Gayo dan menikmati kopi Gayo yang terkenal itu langsung dari perkebunannya. Mungkin paling asik kalau perjalanan ke Gayo ini ditempuh dengan bis eksekutif dari kota Medan menuju ke Takengon sekaligus nostalgia kejayaan perjalanan darat sebelum pesawat udara berkuasa. Lebih keren lagi jika kedatangannya bisa dibarengkan dengan festival pacuan kuda rakyat di Takengon, yang umumnya berpuncak di bulan Agustus.
  • Menikmati alam, selam dan snorkel di Pulau Weh. Berada di penghujung paling barat Indonesia itu akan memberi rasa gimanaa gitu. Ada banyak sudut cantik di Weh, termasuk peninggalan bunker-bunker di masa pendudukan Jepang yang spesial. Weh, mungkin paling seru kalau dijelajahi beramai-ramai dengan becak motor.
  • Sumatra memiliki banyak situs peninggalan Buddhism – terutama dalam bentuk candi batu bata -- yang berakar jauh ke masa keemasan Sriwijaya. Selain Muara Takus di Pakanbaru dan situs terpencil Padang Lawas yang misterius tapi elok di sisi barat Sumatera Utara, kompleks yang paling besar ada di Muaro Jambi. Paling asik dicapai dari kota Jambi menggunakan perahu ketek menyusuri sungai Batanghari.
  • Males-malesan di pantai-pantai berbatu granit di Belitung yang tak ada duanya.
  • Tiga hari jalan darat santai Bengkulu ke Banda Aceh menyusuri Pantai Barat Sumatera dan melihat sisi Indonesia yang tak pernah Anda lihat sehari-hari beserta situs-situs ajaib yang tersebar di jalur sepanjang hampir 2000km ini. 
  • Saya bersama keluarga pernah mencoba ini di masa lalu, tapi kurang berhasil karena mendadak ada badai, yaitu mengunjungi Krakatau dan Anak Krakatau dari Kalianda Lampung. Kalau melihat foto-fotonya, ini salah satu perjalanan yang tiada taranya. Hanya sampai sekarang saya belum juga tau, cara yang paling nyaman – artinya anak-anak bisa ikut dan dengan kapal yang OK -- mendekati anak krakatau
  • Nias dan kekayaan budaya megalitiknya. Paling seru dikunjungi di bulan Agustus saat mereka merayakan festival budaya tahunannya, tepat bersamaan dengan perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia.
  • Mentawai. Di tahun 2000 -- berarti itu delapan belas tahun yang lalu -- saya pernah berbagi bangku dengan seorang anak muda dari Jepang menikmati sarapan pad thai di daerah Khao San, Bangkok. Begitu tahu saya dari Indonesia, dia menceritakan betapa asyiknya perjalanannya bertemu dan tinggal dengan suku-suku asli kepulauan Mentawai. One of the best travel in my life, katanya dengan mata berbinar. Semenjak itu, meski sampai sekarang tak juga kesampaian, keinginan saya untuk datang ke Mentawai – yang penduduk aslinya adalah salah satu penghuni tertua kepulauan Nusantara sebelah barat Garis Wallace -- tak pernah pupus.
  • Kehidupan malam Batam yang konon katanya sama – atau lebih riuh rendah – dari Jakarta. After all, Batam is Singapore’s little playground. Kehidupan malam adalah objek yang menurut saya sangat sangat menarik. Bukan untuk tenggelam di dalamnya, tapi terutama untuk didekati dengan kacamata antropologis. He he he..
Kalau kalian? Apakah Sumatera juga (selalu) memanggil kalian?

Sunday, October 7, 2018

Menuju Empat Besar Dunia: Bohong atau Bungkus?

Indonesia menuju kekuatan empat besar dunia. Projeksi ini versi PricewaterhouseCoppers (PwC), salah satu perusahaan jasa audit, penjaminan, konsultan bisnis dan pajak terbesar di dunia. Dalam laporannya yang bertajuk ‘The World in 2050: How Will The Global Economic Order Change’ PwC memprojeksikan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi empat besar dunia, dan bagaimana pendapatan negara-negara E7, alias emerging seven -- didalamnya ada Indonesia, Russia, Brazil, China, India, Mexico, dan Turki – menjadi dua kali lipat lebih besar dari kekuatan-kekuatan lama yang tergabung dalam G7.


Tapi PwC bukan satu2nya lembaga yang melakukannya, dan juga bukan hal baru. McKinsey, sebuah konsultan bisnis dan manajemen yang sangat terhormat, juga sampai pada kesimpulan yang  sama lebih dari lima tahun yang lalu. Dalam laporan tahunan Global Institite-nya di tahun 2012, McKinsey meramalkan Indonesia akan masuk jajaran  sepuluh besar global powerhouse di tahun 2030, tepatnya di kedudukan tujuh besar dunia.


Bakal kejadian atau enggak? Tergantung kita sih. Saya sendiri memilih mentalitas: let's make this happen! Yuk, jadikan kenyataan!! ketimbang mengikuti mentalitas kalut: Indonesia bubar 2030!
Menurut saya, dengan semua keberhasilan, tapi juga kelemahan fundamental negeri kita, dan bagaimana Rezim Jokowi berusaha meng-handle hal ini, secara umum kita berada di trajektori yang tepat menuju nubuwatan di atas. Meskipun demikian, trajektori ini juga rentan oleh dua hal.


Pertama, rentan terhadap disrupsi oleh para petualang politik dari kubu oposisi yang sebenarnya lemah karya dan cacat imajinasi tapi jago banget mengolah provokasi dan ketakutan. Disrupsi ini bisa menyebabkan 'Jokowinomics' mangkrak sebelum sepenuhnya termanifestasi, menjadi semacam 'unfinished project'.

Kerentanan yang kedua ada di dalam tubuh rezim Jokowi sendiri, yakni inkonsistensi kualitas dan mental defensif. Inkonistensi kualitas muncul karena Jokowi harus banyak melakukan kompromi politik dengan merekrut orang-orang yang tak selalu kompeten karena hutang budi politik. Akibatnya, mesin kerjanya tidak optimal.

Sementara itu sikap defensif muncul karena keinginan berlebihan untuk melindungi diri dari keganasan oposisi -- seperti memilih Maruf Amin, dan mengamini bahwa kekuatan PKI dan Komunisme masih eksis -- dan akibat tak langsung dari optimisme yang terlampau dipompakan, terutama dalam hubungannya dengan ekonomi dan manajemen projek strategis.
Saya ngerti sih, niatnya menghadirkan semangat dan perasaan harga diri, juga untuk mengejar ketertinggalan. Tapi overdosis optimisme akan membuat rejim ini jatuh pada jebakan ’over-promise, under-deliver’, yang indikasinya mudah sekali kita tengarai. Tinggi janji tapi kurang deliveri ini, jika tidak ditangani dengan baik, bisa mengundang gelombang balik antipati..

[...]

OK, balik ke ramalan optimis lembaga-lembaga internasional tadi, saya pengin berbagi gimana secara pribadi saya menyikapinya..

Those who know me very well, istri saya misalnya, tahu banget bahwa deep down inside saya itu cenderung dark and gloomy, no glory, and even close to a pessimistic person. Dan saya enjoy itu. That's simply me.  [Hahahaha.. :) :) Yes! logat Jakselnglish habis! Proud of it...!!! ]

Tapi di dunia sosial dan profesional, saya selalu memprojeksikan sisi saya yang lain. Yang optimistik, penuh harap, sisi cerah yang bisa menghidupi semangat – terutama bagi diri daya sendiri -- untuk maksimal dan habis-habisan mengabdi, bekerja, berkompetisi, atau apapun itu namanya. Pokoknya: total football! Karena saya tau banget: gimana mau berhasil, kalau gak total. Gimana mau totalitas, kalau kita pesimis dan penuh ketakutan?

So, kali ini ijinkanlah saya untuk menjadi seorang pemimpi optimis dan memilih yakin pada nubuwatan lembaga-lembaga besar itu tadi. Bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan lima besar ekonomi dunia pada 2045, tepat di ulang tahun kemerdekaanya yang ke-100.

Hopefully tidak sekedar kaya/ besar dari sisi ekonomi. Namun juga kaya sumbangan kemanusiaan di bidang sains, teknologi, seni. Dalam hal humanisme dan solidaritas. Dan perihal merayakan kehidupan bersama, termasuk hal-hal lucu seperti makanan, gaya hidup, plesiran, adventure..

Pada saat itu, di mimpi saya tadi, buku-buku sejarah kita menulis perjalanan seratus tahun Kemerdekaan Indonesia yang penuh warna, banyak kesalahan, tapi berujung gemilang.

Di mimpi itu juga, saya melihat cucu saya dan teman-teman di ’kelas-bebas’ mereka membaca textbook sejarah nasional Indonesia yang membuat pembabakan baru Indonesia semenjak kemerdekaan menjadi sebagai berikut

1945 - 1959 Orde Revolusi
1959 - 1965 Orde Lama
1966 - 1998 Orde Baru
1998 - 2014 Orde Reformasi
2014 - 2024 Orde Kerja
2024 - 2040 Orde Akselerasi
2040 - 2060 Orde Supremasi

Berangkat dari mimpi itu, buat saya agenda politik hari ini hanya ada dua. Pertama, memastikan Orde Kerja ini diberi kesempatan menyelesaikan apa yang telah mereka mulai tanpa dihentikan oleh para petualang politik yang menghidupi dirinya dengan senantiasa menghembuskan rasa was-was.

Lalu yang Kedua -- setelah pergulatan jangka pendek ini dimenangkan -- membentuk kekuatan sangat kritis agar Orde Kerja bisa lebih 'lempeng' jalannya, tak banyak dibebani oleh kompromi politik dan canpur tangan kekuatan-kekuatan lama.

Kekuatan kritis ini akan mencecar agar Orde Kerja ini tidak meng-entertain gagasan-gagasan lama yang jauh dari rasa keadilan, dan tidak main-main dalam membangkitkan energi terpendam manusia-manusia Indonesia menjadi terlibat sepenuhnya dan memberi (hanya) yang terbaik. Yang terakhir ini hanya bisa mewujud jika triumvirat rekonsiliasi, keadilan, dan angan-angan bersama bisa terbangun.

Problem mendasar dari penajaman pergulatan politik secara tidak proporsional dari kedua kubu selama lima tahun terakhir adalah munculnya kesan bangsa terbelah ke dalam dua kelompok besar yang saling berhadapan. Masing-masing dengan angan-angan yang seakan berbeda sama sekali, atau malah bertentangan secara diametral. Dan di satu sisi, ada satu kelompok kecil ysng capek dengan tingkah polah keduanya. Hal ini bisa mendorong mereka untuk shutdown. Menjadi apolitis.

Padahal, kemungkinan besar tidak demikian. Mimpi kita tentang negeri ini, pasti gak beda-beda jauh, yang itu-itu juga, at least big picturenya. Misalnya: semua orang ingin agar tanggal merah, alias hari libur, nambah. Gak penting dari agama atau kejadian apa hari libur ini disumbangkan... :) :) So membangun inklusivitas dan rasa bersaudara, usai kericuhan pemilihan ini jadi agenda penting banget. Otherwise, kita gak akan bisa lari kenceng..

Sounds too much? Mengada-ada? Bisa jadiii.
Tapi demi anak-anak perempuan saya yang begitu saya sayangi dan demi negeri surgawi bernama Nusantara ini, moga itu semua  bukan sekedar mimpi kosong di sebuah Minggu pagi,.

Empat besar dunia?? Bungkus!!!

Thursday, September 27, 2018

Dari Muasal-Tunggal Hingga Kenangan: Tujuh Tempat Ngopi Idaman di Jakarta..

Saya suka takjub pada kenyataan bahwa tiap orang punya definisinya masing-masing tentang perasaan 'at home'. Bahkan mereka yang berasal dari kelas sosial sama, etnis dan reliji yang sama, atau dibesarkan dengan cara serupa, bisa tetap saja memiliki konstruksi 'at home' yang amat berbeda. Rasa ’at home’ ini acap kali susah banget dijelaskan: dari mana asalnya, mengapa bisa demikian, dan apa saja unsur-unsur yang membentuknya. Kita begitu saja tahu, kapan saat merasa nyaman, saat serta merta kerasan, saat feeling at home. Dan juga sebaliknya, saat kita merasa ’Ah, enggak banget ini tempat..!!’  

Ketika seorang sahabat menanyakan, mana saja kedai kopi fav di Jakarta, jujur saja, cukup lama saya memikirkan jawaban dari pertanyaan yang kelihatannya sederhana itu. Memang susah, secara di kota ini terlalu banyak kedai kopi bagus. yang tiap-tiapnya mampu menerakan kesan tersendiri. Butuh lebih dari sepekan buat saya bisa pelan-pelan mengerti bahwa indikasi yang paling pas untuk menghakimi satu per satu warung kopi tadi dan menakar kehaibatannya, adalah sesuatu yang amat personal. Yakni: seberapa mereka berhasil membuat saya merasa at home.

Dan perihal at-home ini nampaknya adalah hasil senyawa padu beberapa hal yang melibatkan
(i)  pilihan dan kualitas biji kopi, (ii)  kecanggihan barista-nya, (iii) teknik dan ritual penyajiannya,
(iv) keseluruhan desain dan atmosfir kedai, lalu (v)  harga, dan terakhir, yang justru bisa jadi yang paling penting (vi) energi yang dihasilkan oleh interaksi crowd-nya.  Seberapa jauh senyawa ini menjawab hasrat personal kita dalam hal mengalami kopi, akan menentukan seberapa dalam kepuasan kita terpenuhi.

So berbekal itulah, saya lalu membuat daftar ini: tentang kedai-kedai kopi yang paling saya sayangi di Jakarta dan lingkarannya..

Giyanti, Menteng.
Kekuatan Giyanti ada pada hasratnya untuk mengangkat pahlawan sejati dunia perkopi-an, yaitu biji kopi itu sendiri, yang kalau dinarasikan dengan baik bisa menjelma cerita sa-rat romantika: tentang kompleksitas rasa, tentang asal muasal, tentang perjalanan. Di Giyanti lah, untuk pertama kali saya menaruh perhatian pada terma kopi muasal-tunggal (single-origin coffee), dan terpesona pada nama-nama eksotis serupa Blue Batak, Yellow Catura, atau Papua Wamena. Giyanti juga punya barista yang penuh perhatian dan sabar berinteraksi dengan gerombolan kopi obses yang selalu menuntut ritual seruput yang prima. Dan yah, tempat duduknya yang berdesak-desakan, yang umyek itu, terasa demikian santai dan guyub. 


Fillmore, Karet. 
Sudut sempurna untuk sembunyi dari riuh rendah Jakarta yang membuat nafas sesak. Di saat-saat saya perlu mengisi ulang baterei dan sepenuhnya menjadi diri sendiri, saya lari kesini. Fillmore adalah tempat saya menutaskan rindu pada rangkaian kopi Afrika, manakala saya bosen dengan kopi Indonesia. Nampaknya, di tiap kedatangan sa-a, Fillmore selalu punya satu atau dua simpanan biji kopi muasal-tunggal dari Afrika. Berbeda dengan kopi Indonesia yang macho itu, karakter kopi Afrika umumnya feminin: light, floral, fruity.   


Goni, Kemang. 
Sulit menjelaskan mengapa tempat ini bisa menjadi favorit keluarga kami. Penampilan yang terlampau bersahaja, nyaris kumuh, membuat siapapun yang melintasi Kemang Timur mudah mengabaikannya. Tapi adalah Goni yang mengenalkan pada putri bungsu kami kopi seduh-dingin (cold brew), minuman favoritnya beberapa bulan terakhir. Paling tidak sepekan sekali, Sabtu atau Minggu pagi, kami rajin berbondong-bondong ke Goni, ngareriung tanpa agenda, tanpa ekspektasi.

Meski susah menjelaskan, resep kedai kopi keren itu pasti balik ke hal-hal dasar tadi: kopi yang baik, barista yang nyambung, dan atmosfir yang pas dengan kecenderungan batinmu. Kedai kopi ini juga asik karena aroma global crowd-nya. Mungkin Karena lokasinya di bilangan Kemang, konsentrasi tempat tinggal ekspat di Jakarta.  Dan terak-hir, di atas segalanya. mengapa kami respek sekali sama Goni, ialah karena tenggang-rasa mereka pada konsumen yang sudah susah payah banting tulang cari wang. Walau kualitas kopi dan penyajiannya berada di atas standar, harga yang Goni bebankan kepa-da pelanggan, amat lah sopan.


Caswells, Ampera. 
Favorit berat saya dan Riri: kopi di atas rerata dengan kualitas penyajian yang solid, kerumunan yang down-to-earth -- yang seperti tidak butuh membuktikan apa-apa pada dunia, yang tak punya kebutuhan untuk ‘melihat’ dan ‘dilihat’ -- dan keseluruhan atmosfir kedai yang memadukan berbagai elemen kopi. Dari deretan mesin kopi yang kinclong, sebuah ruangan sangrai yang tembus pandang, pajangan dan aroma yang menguar dari berbagai biji kopi yang dijajakan, dan atmosfir Skandinavia yang kental pada perabotan dan keseluruhan interiornya. Sayang oh sayang, Caswells sudah dikubur sekarang, dibeli oleh pemodal raksasa dari Surabaya. Sebuah kehilangan besar untuk pecinta kopi Jakarta. Saya ga bisa move on dari kejadian itu. Selalu diserbu pilu jika mengenangnya. Kini, tiap saya melintas di depan Ampera sembilan, tempat dulu Caswells berada, dengan segenap hati, saya sumpah-serapahi penghuni barunya


Chief, Ciragil 
Hampir tiap pagi saya berhenti di kedai ini dalam perjalanan menuju kantor, usai mengantar anak-anak berangkat ke sekolah. Rasanya tidak pernah sekalipun kopi saringnya ga-gal, buah tangan barista-barista mudanya yang amat bersahabat. Chief cenderung mengundang orang yang itu-itu juga – kebanyakan profesional, orang kreatif, dan entrepreneur --  di jam-jam yang itu-itu juga, membuat saya hafal wajah, dan berkenalan dengan satu dua diantara mereka. Sering saya berniat berhenti sesaat di Chief sebelum melanjutkan perjalanan menuju meja kerja di kantor, dan berakhir dengan kerja ber jam-jam di sini sampai menjelang makan siang. Padahal tak satupun perkakas duduknya memenenuhi prasyarat ergonomika. 

Rosso, Pasmod BSD
Micro coffee roastery di emperan Pasar Modern BSD ini menyelusup dengan luwes diantara toko kelontong dan gerai bahan mkanan segar untuk kebutuhan rumah tangga. Deretan toples biji kopi dari berbagai daerah di meja barista mewartakan kebanggaan Rosso pada kopi Nusantara. Tiap menginap di rumah BSD, kami selalu menyempatkan kesini. Dan selalu dengan komposisi ini: double espresso on the rocks untuk saya, picollo late untuk Riri, dan cafe latte untuk Tara. Sementara itu, anak saya yang paling kecil lebih suka memesan bakpau dan menikmati coretan-coretan yang memenuhi dinding ruangan lantai atasnya.




Bakoel Koffie, Cikini
Buat saya Bakoel Koffie adalah MEMORI. Dengan M besar, E besar, M besar sekali lagi, O besar, R besar dan I besar. Tempat charming, di lingkungan yang gak kalah charming ini, sepenuhnya berisi tentang hal-hal baik dari masa lalu bernama memori. Meski kualitas kopinya naik turun gak karuwan, saya tetap sesekali ke Bakoel Koffie. Saya mengimani bahwa: kenangan-kenangan yang baik, sebagaimana secangkir kopi yang baik, perlu digenggam dengan segenap hati. Dan kerana itu, Bakoel Koffie ada di daftar ini.

Selain tujuh kedai itu, beberapa tempat lain yang saya suka juga adalah: Tobby’s Estate, Kapuk | Djournal, Blok M | Shoot Me In The Head, Duren Tiga | But First Coffee, Dharmawangsa | Anomali, Setiabudi | Tanamera, Gading Serpong | juga Djule, Blok M dan Torna Do Coffee, Kemang. Sayang, dua yang terakhir ini juga sudah almarhum

Jadi, Mas, ngopi kemana hari ini?

Tuesday, September 25, 2018

Sesekali, Tak Ada Salahnya..

Sambil temenin Lila belajar UTS, saya iseng2 mindahin tabel jumlah penonton film Indonesia selama sepuluh tahun terakhir. Angka 2018 adalah projeksi sangat konservatif berdasar penjualan tiket sampai Sep. Dan trendnya sangat menggembirakan. 😇 At least tiga tahun terakhir, setelah stagnasi yang panjang.

---

Setiap tahunnya Indonesia konsisten memproduksi lebih dari 110 film layar lebar. Paling tidak 10% diantaranya, atau sekitar 10-12 film, kualitasnya sangat bagus. Tapi saya masih sering menemukan -- bahkan diantara teman-teman dekat yang amat berpendidikan -- mereka yang merasa nonton film Indonesia itu buang-buang duit dan waktu. Mending nonton Hollywood. 'Pasti bagus!' kata mereka. Tentu saja nonton film itu perihal selera. Dan tak ada benar salah. Tapi kalau mau industri kita berjaya, siapa lagi yang perlu kasih apresiasi, siapa yang harus merayakannya, kalau bukan diri sendiri?

---

Nah, apakah market share 37% itu OK? Menurut saya sih: not bad. Cukup respectable lah sebenarnya pangsa pasar film lokal kita versus serbuan film impor. Pangsa pasar ini tentu akan merambat naik seandainya teman-teman saya yang tadi, bersedia mencicipi barang satu dua film lokal terpilih setiap tahunnya. Kali ini saya punya bocoran, diantara film-film lumayan itu, dua diantaranya akan diputar dalam waktu dekat: 'Aruna dan Lidahnya', sebuah film tentang perjalanan kuliner dan bagaimana rasanya jomblo di usia 30an; Dan science fiction indie movie berjudul 'Tengkorak', sebuah percobaan terpuji, karena: 'kapan sih kita terakhir nonton film Indonesia dengan genre science fiction?'. Jawab: 'Jaman Nabi Adam!' 😅

---

Jadi, lupakan sejenak itu pertikaian politik. Duduk manis di baris belakang, popcorn di pangkuan, bersebelah dengan pasangan atau teman atau kekasih gelap atau gebetan. Whichever suits you.
Sekali-kali gak ada salahnya kok, nonton film berbahasa Indonesia.. 😇



Saturday, September 8, 2018

Mana Yang Lebih Penting, Sultan Agung?


Mana yang lebih penting: produk yang bagus dan berkualitas, atau marketing yang bagus dan berkualitas (walau produknya asal-asalan)? Buat kami, yang dibesarkan sebagai orang-orang komersial, pertanyaan filosofis ini mudah sekali dijawab tanpa sedikit pun keraguan: marketing di atas segalanya!

Adalah kesepakatan umum, budidaya konsumsi kopi, jelato, dan pizza terbaik ada di Ita-lia. Tapi jagad konsumsi perkopian, per-esgrim-an, dan per-pizza-an dunia dikuasai oleh tiga merek: Starbucks, Haagen-Dazs, dan  Pizza Hut. Tak satupun dari berasal dari Ita-lia. Demikan pula dengan cokelat: dihasilkan di Indonesia (dan Brazil dan beberapa nega-ra lain), dijadikan mahakarya oleh orang-orang Belgia, namun dunia konsumsi cokelat dikuasai oleh mereka yang memiliki pemasar terbaik, yakni Inggris, melalui Cadbury.

Kita bahkan tak yakin: apakah Pizza di Pizza Hut itu beneran Pizza dan Cadbury (dengan kandungan cokelat yang amat rendah itu) masih bisa dianggap sebagai cokelat. Tapi demikian lah kenyataannya: sebagian besar konsumen punya pendapat lain.

---

Inilah yang saya rasakan usai menonton Film Sultan Agung, yang barangkali adalah ca-paian tertinggi Mas Hanung Bramantyo sepanjang karirnya sebagai sutradara. Film ko-losal dengan deretan pemeran luar biasa ini mungkin ditonton kurang dari seratus ribu orang. Dan dalam rentang tiga minggu, tertinggal di hanya beberapa layar sinema. Ku-rang dari sepuluh layar? Trenyuh.

Padahal film ini mengantongi terlalu banyak sisi unggul: drama dan skenario yang baik, yang memadukan unsur: laga, cinta, humor, pelintiran (twist) dan pengkhianatan, sadis-me, perang, dan juga sejarah. Semuanya dengan perimbangan yang pas dan padu, dan dieksekusi dengan smooth. Saya juga suka dengan banyaknya kisah personal yang saling berkait, sisi yang sehari-hari dan manusiawi, yang ditenun dalam bingkai kejadian besar: kekacauan Mataram dan penyerbuan ke Batavia (1625-1629), juga racikan nasionalisme yang tidak hitam putih dan menggurui tapi sekaligus sangat bermartabat.

Durasi 2jam 20an menit terasa amat cepat mengalir dalam Sultan Agung, mengunci per-hatian kami hanyut dalam narasi, dan tetiba film usai (!). Saya menonton berdua dengan istri, bubaran kantor, dan sepanjang perjalanan pulang di mobil, masih juga memperbin-cangkannya. Buat kami berdua – yang memang gemar nonton film apa aja: dari horror, action, banyol, sampai avant garde – ini adalah indikasi bahwa film yang barusan kami tonton itu menyisakan kesan yang kuat.

Kalau ada yang bisa diperbaiki, mungkin kualitas CGI (computer generated imagery, animasi). Yeah, hal ini bisa saya maafkan. Indonesia memang masih belum kuat dalam hal ginian, meski di film Wiro Sableng, kita liat lompatan luar biasa, sampai-sampai Angga, sang sutradara, harus berkali-kali menjelaskan bahwa 20th Century Fox hanya membantu dalam hal pendanaan, promosi dan distribusi. Dan urusan CGI ini sepenuhnya ditangani barudak lokal.

Tapi, menimbang semuanya, Sultan Agung, adalah film paling memuaskan yang saya tonton di sepanjang 2018. Sedemikian terpuaskan, saya, yang pemalas itu, sampai me-nyempatkan bikin status sepanjang ini di FB.. :) Saya juga perlu menyebut bahwa per-mainan Putri Marino di film ini, saya duga, akan memenangkan Piala Citra keduanya, setelah ia memenangi piala ini di Film Posesif, tahun lalu. Keren, lah, pokoknya!!

Happy Weekend!



Friday, January 12, 2018

Apa yang Bikin Kamu Optimis Dengan Indonesia?

Awalnya  berangkat dari sebuah pertanyaan beberapa pekan sebelumnya: Di mana sih, di Jakarta, bisa dapat nasi goreng yang enak?  Dan di Desember kemarin kami bertiga akhirnya berlabuh di Nasi Goreng Kebun Sirih. Legenda dari tahun Sembilan puluhan yang sampai sekarang tak pernah sepi pembeli itu. Menjelang Isya kami sukses menuntaskan tiga nasi goreng kambing dengan telor, lima belas tusuk sate kambing dan sepuluh sate ayam. Perut hangat. Hati tambah bersemangat. Tapi, sejujurnya, pertanyaan saya tetap tak terjawab: Di mana sih, di Jakarta, bisa dapat nasi goreng enak? No offense.

Tapi itu sudah tak penting lagi. Yang lebih menyenangkan dari makan bareng, memang yang terutama tidak pernah makanannya sendiri, tetapi pada obrolan gembira dan waktu yang di buang percuma untuk bercengkerama!

Lepas Isya kami memutuskan cari kopi. Saya menyarankan kami pergi ke Bakoel Koffie di Cikini demi sepotong nostalgia. Bakoel Koffie – bersama dengan Torna Do Coffee, Caswells, dan Toraja Coffee – adalah satu dari gerai-gerai pertama yang mengawali budaya kopi modern di Jakarta, jauh sebelum ngopi jadi gaya-gayaan lima tahun terakhir. Lokasinya yang berada di salah satu deret ruko dua lantai tertua di Jakarta, yang di bangun di awal abad saat Indonesia masih menjadi Hindia Belanda, makin membuat kental sisi nostalgia itu. Kami memesan tiga cold brew dan tiga banana muffin untuk merayakannya.

Di Bakoel Koffie inilah, semua obrolan yang seru bermula. Dari urusan pribadi dan kesehatan sampai apresiasi ulang budaya ngopi dan perseteruan kekuasaan. Tentang perselisihan politik yang meluber dari elit ke tingkat akar rumput. Tentang GDP per kapita dan fenomena kelas menengah – whatever that means – yang riuh rendah memenuhi dua lantai Bakoel Koffie malam itu. Juga tentang carut marut afiliasi ummat Islam dalam politik Indonesia kontemporer. yang untuk saya pribadi, perkembangan mutakhirnya terasa menyesakkan. Menyesakkan karena fokusnya yang terpaku pada scripture, identitas dan simbol-simbolan. Menyesakkan karena konsolidasi massa Islam dan tema yang diusungnya rentan sekali ditunggangi (atau malah dikendalikan?) oleh politik jangka pendek yang melibatkan kekuatan-kekuatan lama. Menyesakkan karena ujungnya bisa melahirkan wajah Islam yang kaku, keras, reaksioner, dan mohon maaf, terbelakang.

Anyway, buat saya – yang pernah sangat dekat dengan dunia ini -- tiap perbincangan mengenai wajah terkini gerakan dan dunia Islam itu selalu bikin saya baper dan mellow. Kenapanya, akan saya paparkan suatu saat nanti. Tidak sekarang. Yang saya tau pasti waktu itu, saya ingin keluaran dari ketemuan malam itu  adalah keriangan dan bukan pesimisme dan rasa resah. Sehingga  – ditengah diskusi yang tak tuntas itu – saya  memutuskan untuk serta merta membelokkan topik pembicaraan  kearah yang bisa lebih bikin sumringah.

So, out of topic, tanpa ba bi bu, kepada rekan saya yang mantan penggiat mahasiswa dan sekarang seorang calon Doktor Ilmu Ekonomi itu mendadak saya tanyakan: By the way, apa hal-hal yang membuatmu optimis tentang Indonesia? Sebutkan tiga yang paling utama saja!
Dia tak berpikir lama dengan jawabannya. Berikut ini yang dia bilang:

Pertama, orang Indonesia gemar belanja. Ini  memastikan bahwa permintaan tetap ada. Permintaan mendorong produksi dan inovasi. Permintaan memastikan roda ekonomi  terus bergerak, karena uang dialirkan dan tidak pernah ditahan. Permintaan mengger  Yang kedua adalah keuletan orang Indonesia menghadapi krisis dan kesulitan hidup. Menurutnya, keduanya mengalir deras dalam darah orang Indonesia. Dan ini membuat negeri ini memiliki shock-breaker yang baik dalam menghadapi guncangan-guncangan ekonomi. Ia mengutip contoh klasik krisis multidimensi di tahun 1998, ketika tatanan ekonomi, politik, dan sosial di Indonesia rubuh. Tetapi hanya dalam setahun ekonomi bertumbuh lagi. Dan meski terjadi konflik horizontal di beberapa kantung, Ini tidak mengakibatkan keterceraiberaian sebagaimana dialami oleh Uni Sovyet post glasnost atau Yugoslavia setelah kematian Tito.

Yang ketiga yang membuat dia optimis adalah adaptabilitas orang Indonesia. Yakni keluwesan orang Indonesia dalam menjawab kegagalan-kegagalannya sendiri. Ia mengambil contoh tentang pola transformasi  industri yang acekadut. Teorinya, dia bilang, setelah melampaui masa agraris, Indonesia perlu memantapkan fase industrinya terblebih dahulu sebelum memasuki tahap trading, dan yang terakhir industry pelayanan dan industri yang lebih berbasis pada sains.


Tapi dengan trend deindustrialisasi yang terjadi, alih-alih buntu, pelaku bisnis Indonesia dengan cepat berpindah ke trading, internet-based business, dan service industry. Gegara ini – masih menurut dia, teorinya. Indonesia akan jatuh menjadi negara dengan pendapatan menengah, enggak kere tapi juga gak kaya. Namun, katanya lagi, jangan-jangan ini justru menjadi jalan baru yang bisa menyelamatkan Indonesia. Menurutnya, keluwesan untuk bereaksi terhadap kemampatan ini akan banyak memberikan Indonesia jalan keluar.

Saya setuju bangsa Indonesia itu luwes dalam menghadapi hambatan dan adoptif terhadap pengaruh dan kecenderungan baru. Fleksibilias adalah kekuatan, tapi kadang-kadang terlalu fleksibel, dan jadi kelihatannya kurang konsisten berhadapan dengan aral. Hanya saja dalam hal ini saya tidak sangat yakin bahwa deindustrialisasi dan reaksinya – yaitu membiarkannya terus terjadi -- akan menyelamatkan Indonesia di masa –masa yang akan datang.

Lalu dia balik bertanya pada saya, Tiga hal apa yang membuatmu optimis dengan Indonesia.
Pertama, Jokowi dan beberapa menteri terbaiknya. Mereka memulai tradisi politik baru yang tidak memiliki preseden sebelumnya, terutama tentang etos untuk make things happen dan membongkar aura jumawa pemimpin. Lalu yang kedua, adalah bentuk-bentuk nasionalisme dan kreativitas baru generasi muda di berbagai bidang.  Dan yang ketiga adalah pocket of successes dari banyak kepemimpinan di daerah. Surabaya, misalnya. Atau Kabupaten Bantaeng di Sulawesi Selatan dan Banyuwangi di Jawa Timur.

Menarik untuk melihat bagaimana jawaban kami sangat berbeda, tapi di saat yang sama, sangat serupa. Teman saya tadi menyampaikan hal-hal yang menurut saya running in the blood of Indonesians: sifat konsumtif, keuletan, dan seklaigus keluwesan. Sementara saya lebih berbicara tentang trend sepuluh tahun terakhir. 

Tapi keduanya juga mirip sekali. Poin-poin optimism kami selalu merujuk pada komponen yang sama tentang apa yang membuat kami optimis tentang Indonesia. Apa yang akan menyelamatkan Indonesia di masa yang akan datang: manusianya!

So, apa yang bikin kamu optimis dengan Indonesia?


Thanks untuk FB @Agus Salim dan @Ugun Ismail

Sunday, January 7, 2018

What I Learn From 2017

For me, two thousand seventeen was a year of total mixed feeling, a year of incomprehensible chaos, a year of unpredictable events, full of surprises, yet also a year of new hopes and possibilities. It was the year where religious intolerance rising into new height in Indonesia, a year where global politic seemed to be spiraling into dangerous turns, a year where mighty fast moving consumer goods’ growth put into a slowdown, or a break, or even a breakdown. On the other hand, for some others – like the tiny boutique agency that Riri and her partners started five year ago -- 2017 marked an unprecedented successful result. On a much smaller scale, after so many years of wanting, I was finally able to visit and savor slowly two of my most favorite cities of the world: Istanbul and New York in 2017. Plus another 2,000+ kilometers crisscrossing Down Under with the family on year end. To top it all, I manage to close the year by landing a satisfying deal to kick start 2018. Both the trips and the new start are to my own sweet surprise. 

Personally it was also a year of change: change of responsibility and change of how I should better juggle the balls of life in my hands.  It was a year of me questioning so many things about my future directions.  What I have gained so far, and in return, what cost I have to pay. It is a year of facing my own fear and being critical to my attachments. It is a year of letting go, and at the same time, a year of opening up. This was also the year of reconnecting to kindred spirits and revisiting some elements of myself I have been neglecting for few years till 2017.


It was the year that beckoned me to be more reflective and receptive at the same time. The year that made me paused more often to formulate my thinking, to clarify my belief, and to jot down my conclusions and aha moments.

These are some of my conclusions triggered by personal events and my special encounter with 2017. Hope to never forget those lessons I learnt from that one of a kind year, which all in all, a truly happy year! :)

What about you? What are your 2017’s lessons? These are mines.
  
ON RESPONDING TO CHANGE and CHALLENGE and on MOVING ON
  1. When you let go, you create space to better things to happen to your life (Buddha)
  2. Change leads to discoveries
  3. The new law of the conservation of energy: when one door closes, another opens
  4. Always remember: we are free man by action, often time held captive by our own belief
  5. Relax. Nothing is ever under control. Clear your mind. Respond gracefully. 
ON GROWTH and SUCCESS
  1. Pay attention to the cracks. Because there is where the lights get in (Leonard Cohen)
  2. Playing it safe is dangerous (Found it somewhere on the net, I don’t know who wrote this)
  3. If you hit the wrong notes, it’s the next notes that makes it good or bad (Miles Davis)
  4. Success is the function of the numbers of experiments you have done.
  5. Keep throwing darts to the dartboard. Never Stop. It's that simple!
  6. Challenges are sources of energy
  7. Only passion can breed innovation
ON BEING YOUR SELF
  1. Keep the rebel artist alive in you! (Norman Miller)
  2. When it comes to you VS the world: is it a struggle to find your place in the world, or is it more of an internal battle to become comfortable with who you are? Embrace your true north, stick to it!
  3. If you go back to your core and have fun, good things will happen. 
ON HAPPINESS and ON THE FLOW OF MOMENTS
  1. Best time to be happy: right now!
  2. Two things keep you away from living the moments: your attachment to the past and your fear of what will happen in the future. Carpe the hell out of the diem!
  3. Happiness is like orgasm. The more you think about it, the more it eludes you. And like orgasm, the excitement of happiness lasts only few seconds, the joy and the thrill is in the process
  4. Often time, wanting is better than having
  5. Future of the future will still contain the past. Be thankful to whoever and whatever has helped bring you to today's success 
  6. Resilience is achieved by practicing hope (for the future) and gratitude (of what has happened). But brilliance will only be achieved by practicing an all-out focus (on the now).