Lalu Sumatera punya apa? Apa imaji kita mendengar kata Sumatera?
Saya beruntung punya banyak kenangan menyenangkan dengan pulau ini. Separuhnya berasal dari rangkaian kunjungan kerja di masa lalu dan sisanya hasil travelling dengan Riri dan anak-anak. Selalu saja ada hal-hal yang ingin saya ulangi dengan Sumatera. Bisa jadi itu sekedar sholat subuh di Masjid Raya Al Mashun Medan atau menikmati sepiring mie celor Pasar 26 Ilir di Palembang. Tepat malam ini, saat menulis catatan ini, saya ingin mengulangi perasaan keruntelan berempat sambil memesan cokelat hangat di sebuah dive resort keren di Iboih, Weh, sekitar satu jam perjalanan dari Sabang.
Rasa kangen yang selintas selintas ini bikin saya pengin mendaftar lima belas hal yang saya paling sukai tentang Sumatera. Tak semuanya sudah saya jalani. Satu dua belum sempat saya lakukan. Tapi semuanya membentuk imaji saya tentang daya pikat Sumatera sebagai sebuah destinasi yang tak kunjung habis memberi inspirasi.
Daftar ini sangat terbatas. Sebagai seseorang yang tak pernah mendaki gunung, saya tidak bisa memasukkan Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Kerinci Seblat, yang justru bisa jadi adalah Sumatera’s best kept secret. Sebagai orang yang tidak bisa menikmati golf dan liburan di resort mewah, saya juga harus menyingkirkan Bintan, yang mungkin memiliki banyak resort keren dan padang golf terbaik di Indonesia.
Tapi kira-kira inilah yang paling saya sukai tentang Sumatera
- Tenggelam dalam kemegahan alam, budaya, dan kekayaan kuliner Dataran Tinggi Minang. I can easily spend a good ten days exploring Minang Highland: dari Harau sampai Maninjau. Dari Batusangkar hingga Sawahlunto. Dari Nasi Itiak Lado Hijau sampai Bubur Kampiun. Dari Songket Minang hingga Pagaruyung.
- Napak tilas tragedi tsunami melalui museum, memorial dan menelusuri rekonstruksi Banda Aceh pasca tragedi. Wisata bencana itu pengalaman unik. Ditemani guide yang baik dan berwawasan, ini akan jadi salah satu perjalanan yang membekas sepanjang hayat. Aceh adalah juga ibukota kopi Indonesia. Semua pergi ke warung. Semua minum kopi. Semua pesan sanger arabika. Nongkrong dan ngopi di Aceh itu ritual unik yang mungkin padanannya cuma akan Anda temukan di Casablanca, Maroko.
- Mengagumi kekayaan warisan arsitektur kota Medan: kesultanan, kolonial, peranakan, dan komunitas kecil India yang tinggal di sana. Menurut saya, orang Medan sendiri kurang menghargai warisan ini, padahal unik untuk ukuran Sumatra. Saya sendiri sangat berharap beberapa arsitek di sana bisa menyediakan tur berbayar (atau tidak) -- semacam heritage trail walking tour gitu -- yang bisa membantu meningkatkan apresiasi pelancong dan penduduk setempat perihal kekayaan ini.
- Mengunjungi pusat suaka orang utan dan trekking barang semalam dua malam di Taman Nasional Bukit Lawang. Saya sendiri hanya sempat mengunjungi seharian tempat ini, melakukan pendakian ‘gila’ (gila: karena sangat berbahaya) dengan anak-anak kecil ke gua kelelawar dan ditutup dengan mandi sore di sungai Bahorok. Tapi bertukar kisah dengan sesama traveller dan melihat foto-foto mereka: trekking dengan guide dan bermalam di tengah hutan is a must.
- Sumatera memiliki tiga gravitasi kuliner dengan akar yang kuat: Aceh, Minang dan Palembang. Sisanya adalah turunan atau tafsiran atau variasi dari tiga pusat gravitasi kuliner ini. Buat saya Palembang memiliki jejak kuliner paling kaya di seluruh Sumatera kerana pertemuannya dengan banyak peradaban besar di masa lampau. Selain makanannya, menyusuri kehidupan sungai Musi di Palembang juga pengalaman yang tak terlupakan, terutama jika dilakukan pagi hari atau sore hari yang cerah. Kecuali panasnya yang bisa bikin kepala pening, Palembang adalah ibukota propinsi yang paling saya sukai di Sumatra.
- Toba adalah satu hal. Kita tau keindahannya, terutama jika disusuri dari jalur sisi timur ke utara melalui jalur Prapat-Simarjunjung-Sipisopiso hingga Simalem. Tapi yang juga sangat saya suka adalah Samosir: perbukitannya yang terasa purba, menara-menara gerejanya, lalu tradisi dan peninggalan megalitiknya.
- Mengunjungi Dataran Tinggi Gayo dan menikmati kopi Gayo yang terkenal itu langsung dari perkebunannya. Mungkin paling asik kalau perjalanan ke Gayo ini ditempuh dengan bis eksekutif dari kota Medan menuju ke Takengon sekaligus nostalgia kejayaan perjalanan darat sebelum pesawat udara berkuasa. Lebih keren lagi jika kedatangannya bisa dibarengkan dengan festival pacuan kuda rakyat di Takengon, yang umumnya berpuncak di bulan Agustus.
- Menikmati alam, selam dan snorkel di Pulau Weh. Berada di penghujung paling barat Indonesia itu akan memberi rasa gimanaa gitu. Ada banyak sudut cantik di Weh, termasuk peninggalan bunker-bunker di masa pendudukan Jepang yang spesial. Weh, mungkin paling seru kalau dijelajahi beramai-ramai dengan becak motor.
- Sumatra memiliki banyak situs peninggalan Buddhism – terutama dalam bentuk candi batu bata -- yang berakar jauh ke masa keemasan Sriwijaya. Selain Muara Takus di Pakanbaru dan situs terpencil Padang Lawas yang misterius tapi elok di sisi barat Sumatera Utara, kompleks yang paling besar ada di Muaro Jambi. Paling asik dicapai dari kota Jambi menggunakan perahu ketek menyusuri sungai Batanghari.
- Males-malesan di pantai-pantai berbatu granit di Belitung yang tak ada duanya.
- Tiga hari jalan darat santai Bengkulu ke Banda Aceh menyusuri Pantai Barat Sumatera dan melihat sisi Indonesia yang tak pernah Anda lihat sehari-hari beserta situs-situs ajaib yang tersebar di jalur sepanjang hampir 2000km ini.
- Saya bersama keluarga pernah mencoba ini di masa lalu, tapi kurang berhasil karena mendadak ada badai, yaitu mengunjungi Krakatau dan Anak Krakatau dari Kalianda Lampung. Kalau melihat foto-fotonya, ini salah satu perjalanan yang tiada taranya. Hanya sampai sekarang saya belum juga tau, cara yang paling nyaman – artinya anak-anak bisa ikut dan dengan kapal yang OK -- mendekati anak krakatau
- Nias dan kekayaan budaya megalitiknya. Paling seru dikunjungi di bulan Agustus saat mereka merayakan festival budaya tahunannya, tepat bersamaan dengan perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia.
- Mentawai. Di tahun 2000 -- berarti itu delapan belas tahun yang lalu -- saya pernah berbagi bangku dengan seorang anak muda dari Jepang menikmati sarapan pad thai di daerah Khao San, Bangkok. Begitu tahu saya dari Indonesia, dia menceritakan betapa asyiknya perjalanannya bertemu dan tinggal dengan suku-suku asli kepulauan Mentawai. One of the best travel in my life, katanya dengan mata berbinar. Semenjak itu, meski sampai sekarang tak juga kesampaian, keinginan saya untuk datang ke Mentawai – yang penduduk aslinya adalah salah satu penghuni tertua kepulauan Nusantara sebelah barat Garis Wallace -- tak pernah pupus.
- Kehidupan malam Batam yang konon katanya sama – atau lebih riuh rendah – dari Jakarta. After all, Batam is Singapore’s little playground. Kehidupan malam adalah objek yang menurut saya sangat sangat menarik. Bukan untuk tenggelam di dalamnya, tapi terutama untuk didekati dengan kacamata antropologis. He he he..
















