Friday, January 12, 2018

Apa yang Bikin Kamu Optimis Dengan Indonesia?

Awalnya  berangkat dari sebuah pertanyaan beberapa pekan sebelumnya: Di mana sih, di Jakarta, bisa dapat nasi goreng yang enak?  Dan di Desember kemarin kami bertiga akhirnya berlabuh di Nasi Goreng Kebun Sirih. Legenda dari tahun Sembilan puluhan yang sampai sekarang tak pernah sepi pembeli itu. Menjelang Isya kami sukses menuntaskan tiga nasi goreng kambing dengan telor, lima belas tusuk sate kambing dan sepuluh sate ayam. Perut hangat. Hati tambah bersemangat. Tapi, sejujurnya, pertanyaan saya tetap tak terjawab: Di mana sih, di Jakarta, bisa dapat nasi goreng enak? No offense.

Tapi itu sudah tak penting lagi. Yang lebih menyenangkan dari makan bareng, memang yang terutama tidak pernah makanannya sendiri, tetapi pada obrolan gembira dan waktu yang di buang percuma untuk bercengkerama!

Lepas Isya kami memutuskan cari kopi. Saya menyarankan kami pergi ke Bakoel Koffie di Cikini demi sepotong nostalgia. Bakoel Koffie – bersama dengan Torna Do Coffee, Caswells, dan Toraja Coffee – adalah satu dari gerai-gerai pertama yang mengawali budaya kopi modern di Jakarta, jauh sebelum ngopi jadi gaya-gayaan lima tahun terakhir. Lokasinya yang berada di salah satu deret ruko dua lantai tertua di Jakarta, yang di bangun di awal abad saat Indonesia masih menjadi Hindia Belanda, makin membuat kental sisi nostalgia itu. Kami memesan tiga cold brew dan tiga banana muffin untuk merayakannya.

Di Bakoel Koffie inilah, semua obrolan yang seru bermula. Dari urusan pribadi dan kesehatan sampai apresiasi ulang budaya ngopi dan perseteruan kekuasaan. Tentang perselisihan politik yang meluber dari elit ke tingkat akar rumput. Tentang GDP per kapita dan fenomena kelas menengah – whatever that means – yang riuh rendah memenuhi dua lantai Bakoel Koffie malam itu. Juga tentang carut marut afiliasi ummat Islam dalam politik Indonesia kontemporer. yang untuk saya pribadi, perkembangan mutakhirnya terasa menyesakkan. Menyesakkan karena fokusnya yang terpaku pada scripture, identitas dan simbol-simbolan. Menyesakkan karena konsolidasi massa Islam dan tema yang diusungnya rentan sekali ditunggangi (atau malah dikendalikan?) oleh politik jangka pendek yang melibatkan kekuatan-kekuatan lama. Menyesakkan karena ujungnya bisa melahirkan wajah Islam yang kaku, keras, reaksioner, dan mohon maaf, terbelakang.

Anyway, buat saya – yang pernah sangat dekat dengan dunia ini -- tiap perbincangan mengenai wajah terkini gerakan dan dunia Islam itu selalu bikin saya baper dan mellow. Kenapanya, akan saya paparkan suatu saat nanti. Tidak sekarang. Yang saya tau pasti waktu itu, saya ingin keluaran dari ketemuan malam itu  adalah keriangan dan bukan pesimisme dan rasa resah. Sehingga  – ditengah diskusi yang tak tuntas itu – saya  memutuskan untuk serta merta membelokkan topik pembicaraan  kearah yang bisa lebih bikin sumringah.

So, out of topic, tanpa ba bi bu, kepada rekan saya yang mantan penggiat mahasiswa dan sekarang seorang calon Doktor Ilmu Ekonomi itu mendadak saya tanyakan: By the way, apa hal-hal yang membuatmu optimis tentang Indonesia? Sebutkan tiga yang paling utama saja!
Dia tak berpikir lama dengan jawabannya. Berikut ini yang dia bilang:

Pertama, orang Indonesia gemar belanja. Ini  memastikan bahwa permintaan tetap ada. Permintaan mendorong produksi dan inovasi. Permintaan memastikan roda ekonomi  terus bergerak, karena uang dialirkan dan tidak pernah ditahan. Permintaan mengger  Yang kedua adalah keuletan orang Indonesia menghadapi krisis dan kesulitan hidup. Menurutnya, keduanya mengalir deras dalam darah orang Indonesia. Dan ini membuat negeri ini memiliki shock-breaker yang baik dalam menghadapi guncangan-guncangan ekonomi. Ia mengutip contoh klasik krisis multidimensi di tahun 1998, ketika tatanan ekonomi, politik, dan sosial di Indonesia rubuh. Tetapi hanya dalam setahun ekonomi bertumbuh lagi. Dan meski terjadi konflik horizontal di beberapa kantung, Ini tidak mengakibatkan keterceraiberaian sebagaimana dialami oleh Uni Sovyet post glasnost atau Yugoslavia setelah kematian Tito.

Yang ketiga yang membuat dia optimis adalah adaptabilitas orang Indonesia. Yakni keluwesan orang Indonesia dalam menjawab kegagalan-kegagalannya sendiri. Ia mengambil contoh tentang pola transformasi  industri yang acekadut. Teorinya, dia bilang, setelah melampaui masa agraris, Indonesia perlu memantapkan fase industrinya terblebih dahulu sebelum memasuki tahap trading, dan yang terakhir industry pelayanan dan industri yang lebih berbasis pada sains.


Tapi dengan trend deindustrialisasi yang terjadi, alih-alih buntu, pelaku bisnis Indonesia dengan cepat berpindah ke trading, internet-based business, dan service industry. Gegara ini – masih menurut dia, teorinya. Indonesia akan jatuh menjadi negara dengan pendapatan menengah, enggak kere tapi juga gak kaya. Namun, katanya lagi, jangan-jangan ini justru menjadi jalan baru yang bisa menyelamatkan Indonesia. Menurutnya, keluwesan untuk bereaksi terhadap kemampatan ini akan banyak memberikan Indonesia jalan keluar.

Saya setuju bangsa Indonesia itu luwes dalam menghadapi hambatan dan adoptif terhadap pengaruh dan kecenderungan baru. Fleksibilias adalah kekuatan, tapi kadang-kadang terlalu fleksibel, dan jadi kelihatannya kurang konsisten berhadapan dengan aral. Hanya saja dalam hal ini saya tidak sangat yakin bahwa deindustrialisasi dan reaksinya – yaitu membiarkannya terus terjadi -- akan menyelamatkan Indonesia di masa –masa yang akan datang.

Lalu dia balik bertanya pada saya, Tiga hal apa yang membuatmu optimis dengan Indonesia.
Pertama, Jokowi dan beberapa menteri terbaiknya. Mereka memulai tradisi politik baru yang tidak memiliki preseden sebelumnya, terutama tentang etos untuk make things happen dan membongkar aura jumawa pemimpin. Lalu yang kedua, adalah bentuk-bentuk nasionalisme dan kreativitas baru generasi muda di berbagai bidang.  Dan yang ketiga adalah pocket of successes dari banyak kepemimpinan di daerah. Surabaya, misalnya. Atau Kabupaten Bantaeng di Sulawesi Selatan dan Banyuwangi di Jawa Timur.

Menarik untuk melihat bagaimana jawaban kami sangat berbeda, tapi di saat yang sama, sangat serupa. Teman saya tadi menyampaikan hal-hal yang menurut saya running in the blood of Indonesians: sifat konsumtif, keuletan, dan seklaigus keluwesan. Sementara saya lebih berbicara tentang trend sepuluh tahun terakhir. 

Tapi keduanya juga mirip sekali. Poin-poin optimism kami selalu merujuk pada komponen yang sama tentang apa yang membuat kami optimis tentang Indonesia. Apa yang akan menyelamatkan Indonesia di masa yang akan datang: manusianya!

So, apa yang bikin kamu optimis dengan Indonesia?


Thanks untuk FB @Agus Salim dan @Ugun Ismail

No comments:

Post a Comment