Awalnya berangkat
dari sebuah pertanyaan beberapa pekan sebelumnya: Di mana sih, di Jakarta, bisa
dapat nasi goreng yang enak? Dan di Desember
kemarin kami bertiga akhirnya berlabuh di Nasi Goreng Kebun Sirih. Legenda dari
tahun Sembilan puluhan yang sampai sekarang tak pernah sepi pembeli itu.
Menjelang Isya kami sukses menuntaskan tiga nasi goreng kambing dengan telor,
lima belas tusuk sate kambing dan sepuluh sate ayam. Perut hangat. Hati tambah
bersemangat. Tapi, sejujurnya, pertanyaan saya tetap tak terjawab: Di mana sih,
di Jakarta, bisa dapat nasi goreng enak? No offense.
Tapi itu sudah tak penting lagi. Yang lebih menyenangkan
dari makan bareng, memang yang terutama tidak pernah makanannya sendiri, tetapi
pada obrolan gembira dan waktu yang di buang percuma untuk bercengkerama!
Lepas Isya kami memutuskan cari kopi. Saya menyarankan kami
pergi ke Bakoel Koffie di Cikini demi sepotong nostalgia. Bakoel Koffie –
bersama dengan Torna Do Coffee, Caswells, dan Toraja Coffee – adalah satu dari gerai-gerai
pertama yang mengawali budaya kopi modern di Jakarta, jauh sebelum ngopi jadi
gaya-gayaan lima tahun terakhir. Lokasinya yang berada di salah satu deret ruko
dua lantai tertua di Jakarta, yang di bangun di awal abad saat Indonesia masih
menjadi Hindia Belanda, makin membuat kental sisi nostalgia itu. Kami memesan
tiga cold brew dan tiga banana muffin untuk merayakannya.
Di Bakoel Koffie inilah, semua obrolan yang seru bermula.
Dari urusan pribadi dan kesehatan sampai apresiasi ulang budaya ngopi dan perseteruan
kekuasaan. Tentang perselisihan politik yang meluber dari elit ke tingkat akar
rumput. Tentang GDP per kapita dan fenomena kelas menengah – whatever that
means – yang riuh rendah memenuhi dua lantai Bakoel Koffie malam itu. Juga tentang carut
marut afiliasi ummat Islam dalam politik Indonesia kontemporer. yang untuk saya
pribadi, perkembangan mutakhirnya terasa menyesakkan. Menyesakkan karena fokusnya
yang terpaku pada scripture, identitas dan simbol-simbolan. Menyesakkan karena konsolidasi
massa Islam dan tema yang diusungnya rentan sekali ditunggangi (atau malah
dikendalikan?) oleh politik jangka pendek yang melibatkan kekuatan-kekuatan
lama. Menyesakkan karena ujungnya bisa melahirkan wajah Islam yang kaku, keras,
reaksioner, dan mohon maaf, terbelakang.
Anyway, buat saya – yang pernah sangat dekat dengan dunia
ini -- tiap perbincangan mengenai wajah terkini gerakan dan dunia Islam itu
selalu bikin saya baper dan mellow. Kenapanya, akan saya paparkan suatu saat
nanti. Tidak sekarang. Yang saya tau pasti waktu itu, saya ingin keluaran dari
ketemuan malam itu adalah keriangan dan
bukan pesimisme dan rasa resah. Sehingga – ditengah diskusi yang tak tuntas itu – saya memutuskan untuk serta merta membelokkan topik
pembicaraan kearah yang bisa lebih bikin
sumringah.
So, out of topic, tanpa ba bi bu, kepada rekan saya yang
mantan penggiat mahasiswa dan sekarang seorang calon Doktor Ilmu Ekonomi itu
mendadak saya tanyakan: By the way, apa hal-hal yang membuatmu optimis tentang
Indonesia? Sebutkan tiga yang paling utama saja!
Dia tak berpikir lama dengan jawabannya. Berikut ini yang
dia bilang:
Pertama, orang Indonesia gemar belanja. Ini memastikan bahwa permintaan tetap ada.
Permintaan mendorong produksi dan inovasi. Permintaan memastikan roda ekonomi terus bergerak, karena uang dialirkan dan
tidak pernah ditahan. Permintaan mengger Yang kedua adalah keuletan orang Indonesia
menghadapi krisis dan kesulitan hidup. Menurutnya, keduanya mengalir deras
dalam darah orang Indonesia. Dan ini membuat negeri ini memiliki shock-breaker
yang baik dalam menghadapi guncangan-guncangan ekonomi. Ia mengutip contoh
klasik krisis multidimensi di tahun 1998, ketika tatanan ekonomi, politik, dan
sosial di Indonesia rubuh. Tetapi hanya dalam setahun ekonomi bertumbuh lagi.
Dan meski terjadi konflik horizontal di beberapa kantung, Ini tidak
mengakibatkan keterceraiberaian sebagaimana dialami oleh Uni Sovyet post
glasnost atau Yugoslavia setelah kematian Tito.
Yang ketiga yang membuat dia optimis adalah adaptabilitas
orang Indonesia. Yakni keluwesan orang Indonesia dalam menjawab
kegagalan-kegagalannya sendiri. Ia mengambil contoh tentang pola
transformasi industri yang acekadut.
Teorinya, dia bilang, setelah melampaui masa agraris, Indonesia perlu memantapkan
fase industrinya terblebih dahulu sebelum memasuki tahap trading, dan yang
terakhir industry pelayanan dan industri yang lebih berbasis pada sains.
Tapi dengan trend deindustrialisasi yang terjadi, alih-alih
buntu, pelaku bisnis Indonesia dengan cepat berpindah ke trading, internet-based
business, dan service industry. Gegara ini – masih menurut dia, teorinya. Indonesia akan
jatuh menjadi negara dengan pendapatan menengah, enggak kere tapi juga gak kaya. Namun, katanya lagi,
jangan-jangan ini justru menjadi jalan baru yang bisa menyelamatkan Indonesia.
Menurutnya, keluwesan untuk bereaksi terhadap kemampatan ini akan banyak
memberikan Indonesia jalan keluar.
Saya setuju bangsa Indonesia itu luwes dalam
menghadapi hambatan dan adoptif terhadap pengaruh dan kecenderungan baru.
Fleksibilias adalah kekuatan, tapi kadang-kadang terlalu fleksibel, dan jadi
kelihatannya kurang konsisten berhadapan dengan aral. Hanya saja dalam hal ini
saya tidak sangat yakin bahwa deindustrialisasi dan reaksinya – yaitu
membiarkannya terus terjadi -- akan menyelamatkan Indonesia di masa –masa yang
akan datang.
Lalu dia balik bertanya pada saya, Tiga hal apa yang
membuatmu optimis dengan Indonesia.
Pertama, Jokowi dan beberapa menteri terbaiknya. Mereka
memulai tradisi politik baru yang tidak memiliki preseden sebelumnya, terutama
tentang etos untuk make things happen dan membongkar aura jumawa pemimpin. Lalu
yang kedua, adalah bentuk-bentuk nasionalisme dan kreativitas baru generasi
muda di berbagai bidang. Dan yang ketiga
adalah pocket of successes dari banyak kepemimpinan di daerah. Surabaya,
misalnya. Atau Kabupaten Bantaeng di Sulawesi Selatan dan Banyuwangi di Jawa
Timur.
Menarik untuk melihat bagaimana jawaban kami sangat berbeda,
tapi di saat yang sama, sangat serupa. Teman saya tadi menyampaikan hal-hal
yang menurut saya running in the blood of Indonesians: sifat
konsumtif, keuletan, dan seklaigus keluwesan. Sementara saya lebih berbicara
tentang trend sepuluh tahun terakhir.
Tapi keduanya juga mirip sekali. Poin-poin optimism kami
selalu merujuk pada komponen yang sama tentang apa yang membuat kami optimis
tentang Indonesia. Apa yang akan menyelamatkan Indonesia di masa yang akan
datang: manusianya!
So, apa yang bikin kamu optimis dengan Indonesia?
Thanks untuk FB @Agus Salim dan @Ugun Ismail
Thanks untuk FB @Agus Salim dan @Ugun Ismail

No comments:
Post a Comment