Saturday, September 8, 2018

Mana Yang Lebih Penting, Sultan Agung?


Mana yang lebih penting: produk yang bagus dan berkualitas, atau marketing yang bagus dan berkualitas (walau produknya asal-asalan)? Buat kami, yang dibesarkan sebagai orang-orang komersial, pertanyaan filosofis ini mudah sekali dijawab tanpa sedikit pun keraguan: marketing di atas segalanya!

Adalah kesepakatan umum, budidaya konsumsi kopi, jelato, dan pizza terbaik ada di Ita-lia. Tapi jagad konsumsi perkopian, per-esgrim-an, dan per-pizza-an dunia dikuasai oleh tiga merek: Starbucks, Haagen-Dazs, dan  Pizza Hut. Tak satupun dari berasal dari Ita-lia. Demikan pula dengan cokelat: dihasilkan di Indonesia (dan Brazil dan beberapa nega-ra lain), dijadikan mahakarya oleh orang-orang Belgia, namun dunia konsumsi cokelat dikuasai oleh mereka yang memiliki pemasar terbaik, yakni Inggris, melalui Cadbury.

Kita bahkan tak yakin: apakah Pizza di Pizza Hut itu beneran Pizza dan Cadbury (dengan kandungan cokelat yang amat rendah itu) masih bisa dianggap sebagai cokelat. Tapi demikian lah kenyataannya: sebagian besar konsumen punya pendapat lain.

---

Inilah yang saya rasakan usai menonton Film Sultan Agung, yang barangkali adalah ca-paian tertinggi Mas Hanung Bramantyo sepanjang karirnya sebagai sutradara. Film ko-losal dengan deretan pemeran luar biasa ini mungkin ditonton kurang dari seratus ribu orang. Dan dalam rentang tiga minggu, tertinggal di hanya beberapa layar sinema. Ku-rang dari sepuluh layar? Trenyuh.

Padahal film ini mengantongi terlalu banyak sisi unggul: drama dan skenario yang baik, yang memadukan unsur: laga, cinta, humor, pelintiran (twist) dan pengkhianatan, sadis-me, perang, dan juga sejarah. Semuanya dengan perimbangan yang pas dan padu, dan dieksekusi dengan smooth. Saya juga suka dengan banyaknya kisah personal yang saling berkait, sisi yang sehari-hari dan manusiawi, yang ditenun dalam bingkai kejadian besar: kekacauan Mataram dan penyerbuan ke Batavia (1625-1629), juga racikan nasionalisme yang tidak hitam putih dan menggurui tapi sekaligus sangat bermartabat.

Durasi 2jam 20an menit terasa amat cepat mengalir dalam Sultan Agung, mengunci per-hatian kami hanyut dalam narasi, dan tetiba film usai (!). Saya menonton berdua dengan istri, bubaran kantor, dan sepanjang perjalanan pulang di mobil, masih juga memperbin-cangkannya. Buat kami berdua – yang memang gemar nonton film apa aja: dari horror, action, banyol, sampai avant garde – ini adalah indikasi bahwa film yang barusan kami tonton itu menyisakan kesan yang kuat.

Kalau ada yang bisa diperbaiki, mungkin kualitas CGI (computer generated imagery, animasi). Yeah, hal ini bisa saya maafkan. Indonesia memang masih belum kuat dalam hal ginian, meski di film Wiro Sableng, kita liat lompatan luar biasa, sampai-sampai Angga, sang sutradara, harus berkali-kali menjelaskan bahwa 20th Century Fox hanya membantu dalam hal pendanaan, promosi dan distribusi. Dan urusan CGI ini sepenuhnya ditangani barudak lokal.

Tapi, menimbang semuanya, Sultan Agung, adalah film paling memuaskan yang saya tonton di sepanjang 2018. Sedemikian terpuaskan, saya, yang pemalas itu, sampai me-nyempatkan bikin status sepanjang ini di FB.. :) Saya juga perlu menyebut bahwa per-mainan Putri Marino di film ini, saya duga, akan memenangkan Piala Citra keduanya, setelah ia memenangi piala ini di Film Posesif, tahun lalu. Keren, lah, pokoknya!!

Happy Weekend!



No comments:

Post a Comment