Tuesday, September 25, 2018

Sesekali, Tak Ada Salahnya..

Sambil temenin Lila belajar UTS, saya iseng2 mindahin tabel jumlah penonton film Indonesia selama sepuluh tahun terakhir. Angka 2018 adalah projeksi sangat konservatif berdasar penjualan tiket sampai Sep. Dan trendnya sangat menggembirakan. 😇 At least tiga tahun terakhir, setelah stagnasi yang panjang.

---

Setiap tahunnya Indonesia konsisten memproduksi lebih dari 110 film layar lebar. Paling tidak 10% diantaranya, atau sekitar 10-12 film, kualitasnya sangat bagus. Tapi saya masih sering menemukan -- bahkan diantara teman-teman dekat yang amat berpendidikan -- mereka yang merasa nonton film Indonesia itu buang-buang duit dan waktu. Mending nonton Hollywood. 'Pasti bagus!' kata mereka. Tentu saja nonton film itu perihal selera. Dan tak ada benar salah. Tapi kalau mau industri kita berjaya, siapa lagi yang perlu kasih apresiasi, siapa yang harus merayakannya, kalau bukan diri sendiri?

---

Nah, apakah market share 37% itu OK? Menurut saya sih: not bad. Cukup respectable lah sebenarnya pangsa pasar film lokal kita versus serbuan film impor. Pangsa pasar ini tentu akan merambat naik seandainya teman-teman saya yang tadi, bersedia mencicipi barang satu dua film lokal terpilih setiap tahunnya. Kali ini saya punya bocoran, diantara film-film lumayan itu, dua diantaranya akan diputar dalam waktu dekat: 'Aruna dan Lidahnya', sebuah film tentang perjalanan kuliner dan bagaimana rasanya jomblo di usia 30an; Dan science fiction indie movie berjudul 'Tengkorak', sebuah percobaan terpuji, karena: 'kapan sih kita terakhir nonton film Indonesia dengan genre science fiction?'. Jawab: 'Jaman Nabi Adam!' 😅

---

Jadi, lupakan sejenak itu pertikaian politik. Duduk manis di baris belakang, popcorn di pangkuan, bersebelah dengan pasangan atau teman atau kekasih gelap atau gebetan. Whichever suits you.
Sekali-kali gak ada salahnya kok, nonton film berbahasa Indonesia.. 😇



No comments:

Post a Comment