Tuesday, December 19, 2017

Resolusi-Resolusi Kecil

Sudah lebih dari lima tahun terakhir, di tiap penghujung warsa, saya gemar membuat resolusi untuk tahun yang akan datang. Ide resolusi tahunan ini bukan karena saya tekun mengikuti saran para motivator tentang ‘taking control of your own destiny’, tetapi adalah respon instingtif kebutuhan survival saya.  Ia lahir semata  sebagai cara jitu menyiasati dua kecencederungan ekstrim yang entah bagaimana, hidup berdampingan dalam diri saya. Di satu sisi saya gemar sekali mager, alias males gerak. Sementara. di kutub yang lain,  saya mudah sekali tergiur oleh rencana-rencana baru yang datang belakangan sembari gampang mencampakkan rencana-rencana mula. Iya, saya memang mudah digoda. Resolusi, paling tidak, membuat saya merasa punya target, sekaligus juga, merasa punya koridor yang memberi batas-batas imajiner dan keterarahan. Ingat, kata kuncinya adalah: m-e-r-a-s-a. :) :)

Dulunya saya gemar membuat resolusi yang gagah dan mentereng, dan kadang agak ditarik tegang (stretched) agar saya juga menjadi tertantang. Resolusi semacam ini misalnya:  menjadi pejabat senior sekian bulan dari sekarang, atau menumpuk asset sejumlah anu dalam dua belas bulan ke depan, atau turun tujuh kilo sebelum akhir tahun, atau menjelajahi ini dan ina dan itu sehingga saya dapat mencoret mereka dari daftar travel destinations saya yang amat panjang itu.

Hanya saja, meski resolusi tarik tegang itu menantang, dan tantangan dapat memberi kita energi, seringkali kejadiannya malah sebaliknya: resolusi-resolusi bikin saya tertekan, karena over-stretched, dan pada akhirnya malah membuahkan perasaan tidak tuntas di penghujung tahun. Nah, akibat over-stretched ini, selalu saja ada resolusi yang gagal capai, yang pada ujungnya justru mendiskon perasaan menang yang muncul dari capaian resolusi lain sepanjang tahun. Perasaan tidak bulat yang acap kali muncul di penghujung tahun ini, buat saya, sangat tidak asyik 

Dan karena itulah, semenjak tahun 2015 saya mengubah strategi resolusi tahunan sedemikian rupa, yang intinya ialah bagaimana menjadikan semua itu bisa dicapai, hingga di ujungnya saya bisa merasa melewati perjalanan setahun utuh dan merasa keluar sebagai pemenang. Ingat, sekali lagi, kata kuncinya adalah: m-e-r-a-s-a. :) :)

Tindakan pertama, kurangi jumlah resolusi. Ini membuat saya fokus dan menghindar dari mentalitas belum-belum sudah merasa kewalahan. Yang kedua, bingkai ulang tiap resolusi – yang sudah berkurang jumlahnya itu --  sehingga target tiap resolusi jatuh di titik imbang (sweet spot) antara tantangan dan kemudahan. Sweet spot itu penting, karena terlalu mudah bikin kita males. Sebaliknya, terlalu sukar bikin kita down.

Lalu, yang terakhir, menggabungkan ke dalam resolusi-resolusi serius dan sungguhan ini resolusi-resolusi kecil, yang mudah sekali dicapai – kalau kita mau -- dan ada unsur lelucuannya. And they turned out to be real fun and energy booster!! :)

Buat saya contoh sungguhan resolusi lelucuan ini adalah satu yang saya buat di penghujung tahun 2015 saat berada di Banyuwangi, yakni mengaktifkan kembali akun Instagram yang serta merta mati suri begitu akun itu dibuat satu setengah tahun sebelumnya. Contoh lainnya: menonton minimum sepuluh film Indonesia di gedung bioskop dan belajar renang (ya, memalukan memang, saya tidak bisa renang, meski beruntung bisa snorkeling sana sini dari Weh, Bira, Bunaken, hingga Banda). Keduanya berasal dari Desember 2016

Lalu, coba tebak?!? Tentu saja, mereka bisa dicapai!

Meski selama dua tahun belakangan saya belum berhasil memiliki rerata satu positing perhari, dan dengan follower hanya sebanyak jumlah jari, paling tidak, melalui insta, saya konsisten mengakumulasi memori visual tentang hal-hal yang saya gemari. That is something! Lalu, tahun ini, akhirnya saya bisa menonton enam belas film Indonesia di bioskop dan menyelesaikan pelajaran renang dasar di bulan September lalu. And surely, all these small victories boosting my year end energy!!


Dari pengalaman dua tahun belakangan itulah saya berniat mempertahankan resolusi-resolusi kecil tadi. Biasanya, untuk resolusi yang serius, saya simpan buat diri sendiri. No way saya bagi. Malu soalnya. Tapi untuk yang lelucuan itu, asik juga kalau dibagi. Selain bikin makin semangat, siapa tahu bisa mengilhami.

Jadi demikianlah. Buat tahun 2018, resolusi lelucuan saya adalah: belajar diving dan mengaktifkan blog dengan paling tidak delapan belas posting sepanjang tahun. Sounds achievable, right?!

Wuhuuu! Bismillah! Please help me, God! Ngomong-ngomong, apa resolusimu?

No comments:

Post a Comment