Bapak berkepala pelontos dan berperut buncit, warga negara Paman Sam itu, barangkali berusia 55 tahun. Ia masih sangat lincah. Kaos oblong yang ia kenakan menunjukkan kegemaran menyelam. Di tambah pantalon pendek khaki ala jagawana, dan sepatu outdoor adventure yang gagah. Suaranya lantang dan amat bersahabat, khas turis Amerika yang cerewet dan jago mengomentari segala hal. Kami berada di Doha dalam perjalanan bersama menuju NYC.
Saya yang terpaut lima orang dalam sebuah antrian dibelakangnya, tertahan lebih dari sepuluh menit. Petugas sibuk menggeledah isi semua kotak -- berisi ragam lensa dan semua perangkat pendukungnya -- dalam ransel raksasa yang ia gendong ke kabin. Tapi bukan itu yang paling menarik dan membuat saya betah bertahan dalam antrian dibelakangnya, melainkan cerita-cerita sampingan yang ia tuturkan penuh semangat kala membongkar tas dan menunjukkan satu persatu peralatannya kepada petugas. Si Bapak ini ternyata baru kembali dari perjalanannya selama sebulan di Banda Neira dan satu bulan yang lain menjelajah Flores, dari Komodo, Bajo, hingga Maumere. Dari gaya bertuturnya nampak sekali Bapak ini amat bahagia dan terpuaskan dengan petualangan yang baru saja ia lalui, sebahagia penziarah ketuhanan yang baru saja menuntaskan perjalanan spiritualnya.
Kami tak sempat berkenalan. Tapi di saat pesawat hendak lepas landas dari Doha, saya masih sempat mendengar suara khasnya membuka obrolan, mungkin dengan orang asing di sebelah tempat duduknya, dan sekali lagi ia memutar ulang kisahnya tentang Banda, dan alam ajaib di atas maupun di bawah permukaan lautnya. Nampaknya dia berada di lorong lain beberapa deret di depan saya..
Kejadian itu sudah hampir tiga minggu lalu. Tapi sampai sekarang saya masih terkagum-kagum dengan Bapak ini. Seusia dia, sejauh Amerika, dan masih terpanggil menempuh perjalanan tiga hari nonstop atau lebih dari New York ke Bandaneira.Tapi tentang Banda dan Flores, siapa sih pelancong sejati yang tidak akan tergiur oleh rayuan eksotika dua gugus kepulauan ini?
Bicara tentang eksotika, kemarin saya menemukan buku indah yang memaparkan kemolekan Banda dari berbagai seginya, 'Bandaneira: Hidden Histories and The Miracles of Nature'. Ditulis keroyokan oleh nama-nama besar mancanegara maupun Nusantara yang, kelihatan sekali dari cara bertuturnya, jatuh cinta mati pada kepulauan ini. Sebuah nasi campur lezat yang mengawinkan travelogue, sastra, legenda, sejarah, catatan akademis, esai sosial politik, keseharian, dan trivia yang menghibur. Saya menghabiskan weekend saya membaca buku setebal 240 halaman ini..
Kami sekeluarga beruntung sempat mampir ke Banda selama hampir sepekan di penghujung tahun lalu. Sayangnya di bulan yang salah, karena harus menyesuaikan dengan libur anak-anak, sehingga hanya tersisa lima dive/ snorkel spot dari dua puluh enam yang ada, yang masih aman untuk diselami. Kami juga suatu kali terjebak badai di selat kecil yang memisahkan Lonthor dan Neira. Menakutkan dan basah kuyup tapi anak-anak ketawa-ketiwi aja.
Banda is not for everyone. Bagi sementara orang perjalanan kesana mungkin terasa amat menyiksa. Bagi kami berempat, ternikmati sebagai petualangan tersendiri. Bagi sebagian, Banda akan terasa amat sunyi dan membosankan. Bagi kami, Banda is simply surgawi.
Waktu itu, setahun yang lalu, belum juga meninggalkan Neira, kami sudah bersepakat untuk mengunjungi lagi kepulauan ini, suatu saat nanti. Lila sudah memulai snorkeling pertamanya di pulau tikus Bengkulu, beberapa bulan lalu, sementara saya perlu segera memulai pelajaran selam pertama saya, hopefully, Januari.
Dengan ijin Tuhan, Banda. Dengan ijin Tuhan, kita akan bersua kembali..
Saya yang terpaut lima orang dalam sebuah antrian dibelakangnya, tertahan lebih dari sepuluh menit. Petugas sibuk menggeledah isi semua kotak -- berisi ragam lensa dan semua perangkat pendukungnya -- dalam ransel raksasa yang ia gendong ke kabin. Tapi bukan itu yang paling menarik dan membuat saya betah bertahan dalam antrian dibelakangnya, melainkan cerita-cerita sampingan yang ia tuturkan penuh semangat kala membongkar tas dan menunjukkan satu persatu peralatannya kepada petugas. Si Bapak ini ternyata baru kembali dari perjalanannya selama sebulan di Banda Neira dan satu bulan yang lain menjelajah Flores, dari Komodo, Bajo, hingga Maumere. Dari gaya bertuturnya nampak sekali Bapak ini amat bahagia dan terpuaskan dengan petualangan yang baru saja ia lalui, sebahagia penziarah ketuhanan yang baru saja menuntaskan perjalanan spiritualnya.
Kami tak sempat berkenalan. Tapi di saat pesawat hendak lepas landas dari Doha, saya masih sempat mendengar suara khasnya membuka obrolan, mungkin dengan orang asing di sebelah tempat duduknya, dan sekali lagi ia memutar ulang kisahnya tentang Banda, dan alam ajaib di atas maupun di bawah permukaan lautnya. Nampaknya dia berada di lorong lain beberapa deret di depan saya..
Kejadian itu sudah hampir tiga minggu lalu. Tapi sampai sekarang saya masih terkagum-kagum dengan Bapak ini. Seusia dia, sejauh Amerika, dan masih terpanggil menempuh perjalanan tiga hari nonstop atau lebih dari New York ke Bandaneira.Tapi tentang Banda dan Flores, siapa sih pelancong sejati yang tidak akan tergiur oleh rayuan eksotika dua gugus kepulauan ini?
Bicara tentang eksotika, kemarin saya menemukan buku indah yang memaparkan kemolekan Banda dari berbagai seginya, 'Bandaneira: Hidden Histories and The Miracles of Nature'. Ditulis keroyokan oleh nama-nama besar mancanegara maupun Nusantara yang, kelihatan sekali dari cara bertuturnya, jatuh cinta mati pada kepulauan ini. Sebuah nasi campur lezat yang mengawinkan travelogue, sastra, legenda, sejarah, catatan akademis, esai sosial politik, keseharian, dan trivia yang menghibur. Saya menghabiskan weekend saya membaca buku setebal 240 halaman ini..
Kami sekeluarga beruntung sempat mampir ke Banda selama hampir sepekan di penghujung tahun lalu. Sayangnya di bulan yang salah, karena harus menyesuaikan dengan libur anak-anak, sehingga hanya tersisa lima dive/ snorkel spot dari dua puluh enam yang ada, yang masih aman untuk diselami. Kami juga suatu kali terjebak badai di selat kecil yang memisahkan Lonthor dan Neira. Menakutkan dan basah kuyup tapi anak-anak ketawa-ketiwi aja.
Banda is not for everyone. Bagi sementara orang perjalanan kesana mungkin terasa amat menyiksa. Bagi kami berempat, ternikmati sebagai petualangan tersendiri. Bagi sebagian, Banda akan terasa amat sunyi dan membosankan. Bagi kami, Banda is simply surgawi.
Waktu itu, setahun yang lalu, belum juga meninggalkan Neira, kami sudah bersepakat untuk mengunjungi lagi kepulauan ini, suatu saat nanti. Lila sudah memulai snorkeling pertamanya di pulau tikus Bengkulu, beberapa bulan lalu, sementara saya perlu segera memulai pelajaran selam pertama saya, hopefully, Januari.
Dengan ijin Tuhan, Banda. Dengan ijin Tuhan, kita akan bersua kembali..

No comments:
Post a Comment