Semenjak hampir sepuluh tahun yang lalu, industri sinema
lokal berhasil memproduksi secara konsisten 90-an sampai 130-an judul film tiap
tahunnya. Tak buruk. Cukup membanggakan malah, mengingat satu dekade sebelumnya,
Indonesia terpuruk habis. Film bukan hanya runtuh dari segi jumlah produksi,
namun juga gelap gulita kualitasnya. Selama sepuluh tahun diantara 1993 hingga
2003, kurang dari 30-an film layar lebar Indonesia di rilis tiap tahunnya. Bahkan
di tahun-tahun paling buruk menjelang
dan menyusul kejatuhan Soeharto, dunia sinema kita hanya merilis kurang
dari sepuluh film per tahun. Itu pun sering kali didominasi oleh genre film
kuning.
Contoh yang paling epik barangkali adalah rilisan film
Indonesia di tahun 1998, tahun kebangkrutan rezim Orde Baru. Hanya empat film
layar lebar di rilis tahun ini, tiga diantaranya dengan judul yang ampun banget
imajinasinya. Lihat saja: Misteri Banyuwangi (Dukun Santet), Dendam Membara,
Permainan Membara, dan Nafsu Membara. OMG, ada apa dengan kata ‘membara’ dan
tahun 1998? Saya amat tergoda untuk menamai ketiga film epik itu dalam satu
Trilogi Film Membara
Kalau dulu Anda suka ke bioskop, kadang-kadang ada juga sih,
setetes harapan di tengah kemarau panjang itu. Misalnya Kuldesak (1997),
Petualangan Sherina (1999), Bintang Jatuh (2000) dan Pasir Berbisik (2000) yang
memperkenalkan dan mengukuhkan Dian Sastro. Jelangkung (2001) yang menguarkan kembali kegemaran audiens lokal pada genre makhluk halus. Lalu AADC (2002) dan Arisan (2003)
yang sering dianggap sebagai penanda awal kebangkitan kembali fim lokal.
Kini ceritanya berbeda. Meski belum benar-benar bisa jadi
tuan rumah di negeri sendiri, paling tidak kita merasakan musim semi perfileman nasional
berderap pasti ke depan. Di beberapa
tahun terakhir, pangsa pasar film-film lokal kembali mentok di angka 20-25%,
masih jauh dari pencapaian tertinggi di tahun 2008 saat film lokal sempat meraup 56%
dari total penjualan karcis bioskop kala itu, berkat film-film seperti Laskar
Pelangi (2008) dan Ayat-Ayat Cinta (2008). Tapi mempertimbangkan konsolidasi, peningkatan
kualitas, dan serbuan film Hollywood yang luar biasa selama lima tahun
terakhir, angka 25% ini masih cukup terhormat.
Buat saya pribadi, dalam hubungannya dengan kebiasaan
nonton bioskop, tahun 2017 adalah tahun prestasi! Biasanya, saya hanya bisa
menonton lima sampai sembilan film Indonesia tiap tahunnya, tak pernah menyentuh
angka sepuluh. Tapi kali ini saya sempat menonton enam belas film Indonesia.
Berikut ini adalah daftar film layar lebar Indonesia yang
sempat saya tonton di bisokop sepanjang tahun 2017 (beberapa diproduksi di
tahun 2016). Tak selalu menggambarkan film yang paling baik, karena kata
kuncinya adalah: sempat. Yang saya suka banget dari tahun 2017 ini adalah
diangkatnya lokalitas melalui film-film berbahasa Jawa (Kartini, Turah, Ziarah,
Istirahatlah Kata-Kata), masuknya film dokumenter ke jaringan teater layar lebar
arus utama (Banda: The Dark Forgotten Trail dan Negeri Dongeng), drama nyata sehari-hari yang digarap
dengan amat bagus (Posesif dan Cek Toko Sebelah), lalu satu feature film yang
diputar di Cannes setelah bertahun-tahun Indonesia absen dari festival ini
(Marlina: The Murderer in Four Acts). Lalu ada satu eksperimentasi low-budget thriller movie yang
membuahkan predikat film terbaik versi FFI (Night Bus).
Iseng-iseng saya menciptakan scoring berikut untuk
menggambarkan ragam kualitas film lokal yang sempat saya tonton sepanjang 2017
0 -- Nyesel nontonnya
1 -- Datar
2 -- Menghibur
3 -- Bagus
4 -- Bagus banget
5 -- Salah satu yang terbaik, yang pernah saya tonton
sepanjang masa
Dan berikut ini adalah hasilnya
1.
Cek Toko Sebelah | Komedi, (4/5)
2.
Danur | Horror, (3/5)
3.
Istirahatlah Kata-Kata | Biopik, Drama, (2/5)
4.
Jakarta Undercover | Drama, (2.5/5)
5.
Ziarah | Drama, (5/5)
6.
The Doll 2 | Horror, (0/5)
7.
Kartini | Bografi Sejarah, Drama, (4/5)
8.
Turah | Drama, (2.5/5)
9.
Banda | Dokumenter, (2.5/5)
10.
Pengabdi Setan | Horror, (3/5)
11.
Negeri Dongeng | Dokumenter, (2/5)
12.
Wage | Drama, (2.5/5)
13.
Posesif | Drama, (4.5/5)
14.
Marlina: The Murderer in Four Acts | Drama,
(4/5)
15.
Night Bus | Thriller, (3.5/5)
16.
Suatu Hari Nanti | Drama, (2/5)

No comments:
Post a Comment